Muktamar Muhammadiyah ke-47, Wawan Kardiyanto: Indonesia Sentral Umat Islam Dunia

MUKTAMAR - Pemerhati masalah keagamaan, Wawan Kardiyanto, berharap, Muktamar Muhammadiyah ke-47 dapat memberi solusi masalah keumatan. (Foto: Dok Pribadi)
MUKTAMAR – Pemerhati masalah keagamaan, Wawan Kardiyanto, berharap, Muktamar Muhammadiyah ke-47 dapat memberi solusi masalah keumatan. (Foto: Dok Pribadi)

Kentingan, SURAKARTA DAILY ** Persoalan umat Islam di Indonesia identik dengan persoalan umat Islam di seluruh penjuru bumi. Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang akan digelar di Makassar awal Agustus 2015 nanti, diharapkan membangun optimisme baru menyelesaikan persoalan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia.

“Peradaban global yang telah menyelimuti dunia ini dengan ideologi kapitalisme dan sains-teknologinya ternyata telah membangun kultur budaya raksasa yang non-transenden dan non-imanen. Jauh dari nilai-nilai agama yang menyelimuti seluruh pelosok bumi. Tidak terkecuali di Indonesia. Sehingga persoalan umat Islam di Indonesia, juga identik dengan persoalan umat Islam di seluruh penjuru bumi,” ujar pemerhati masalah keagamaan, Wawan Kardiyanto, kepada Surakarta Daily, Sabtu (25/7/2015).

Menurutnya, Islam yang rahmatan lil alamin dapat membuktikan kebenaran nilai-nilai dan petunjuknya, sehingga mampu menyentuh dan mengikat keyakinan dan nilai-nilai religiusitas, sekaligus menjadi pedoman kehidupan; bukan saja bagi umat Islam namun juga seluruh umat manusia.

“Apa yang telah dipunyai oleh umat Islam belum mampu menyentuh dan mengikat keyakinan dan nilai-nilai religiusitas mayoritas masyarakat Islam. Sebab, hingga saat ini, dakwah yang dilakukan oleh penyeru-penyeru Allah belum menembus tiap-tiap keluarga Muslim secara langsung dalam persaudaraan Islam,” terang akademisi Institut Seni Indonesia Surakarta tersebut.

Wawan mengatakan, metode dakwah tepat telah diterapkan juru-juru dakwah terdahulu, seperti contohnya para Wali Songo. Karena, kultur budaya masyarakat Indonesia ketika itu yang heterogen dengan taraf pendidikan masih terbelakang, Wali Songo menyebarkan Islam dengan metode sinkretisme-struktural.

“Wali Songo juga menciptakan pola pendidikan pesantren dengan basis sentralnya tervisualisasi kepada sosok kiai yang ternyata keampuhannya masih terbukti hingga saat ini. Pola pendidikan Pesantren berusaha menciptakan masyarakat Islam yang berpredikat Muslim Santri,” terang alumnus UMS Surakarta ini.

Rundown Muktamar

Pada waktu dan tempat yang berbeda, Ketua Panitia Pemilihan Muktamar Muhammadiyah 2015, Dahlan Rais, mengungkapkan, Sidang Tanwir Muhammadiyah, 1-2 Agustus 2015 di Makassar akan memilih 39 dari 82 Calon Pimpinan Pusat Periode 2015-2020 menjadi Calon Tetap. Selanjutnya, pada Sidang Muktamar, 4 Agustus 2015, akan dipilih 13 nama dari Calon Tetap.

“Pada saat proses penelitian calon terdapat 1 calon yang meninggal dunia, sehingga terdapat 82 nama calon yang memenuhi syarat atau lolos, yang selanjutnya akan dibawa ke Sidang Tanwir,” kata Dahlan saat Media Gathering beberapa waktu lalu di Kota Yogyakarta.

Sejumlah 13 Calon Terpilih Anggota PP Muhammadiyah tersebut lalu bermusyawarah mufakat untuk menetapkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2015-2020 yang disahkan oleh Muktamar, sekaligus mengumumkan nama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.