Irfan Sutikno: Bersama Solopolah, Mari Wujudkan Solo Kota Kreatif

SOLOPOLAH - praktisi branding daerah, Irfan Sutikno, mengajak warga Solo untuk terus kreatif. (Foto: Solopolah)
SOLOPOLAH – Praktisi branding daerah, Irfan Sutikno, mengajak warga Solo untuk terus kreatif. (Foto: Solopolah)

Purwosari, SURAKARTA DAILY ** Sumberdaya manusia kreatif dan kota kreatif harus menjadi fokus pemerintah dan masyarakat Kota Solo. Caranya, mengorganisasikan dan mengkolaborasikan komunitas-komunitas kreatif dengan output khusus.

“Menjadikan Kota Solo sebagai enterprise kaliber dengan keahlian kreasi dan inovasi guna meningkatkan semangat produktivitas, kesejahteraan, dan keuntungan masyarakat, tentu bukan perkara gampang. Sebab, produktivitas dalam berkreasi membutuhkan aturan main khusus dan sistem yang terencana, agar tidak terjadi kejenuhan atau mandeknya produktivitas,” ujar praktisi branding daerah, Irfan Sutikno, kepada Surakarta Daily, Kamis (9/7/2015).

Ia menjelaskan, Kota Solo kaya budaya dan kreativitas. Apabila masyarakat Solo tidak antisipatif dan me-manage diri, hidup akan menjadi tidak produktif, banyak pengangguran, kemiskinan, banjir, macet.

“(Sejumlah) 70 persen warga Solo rekreasinya di mal, bukan di THR lihat Wayang Orang, Jurug, taman-taman kota, atau pameran-pameran kreatif yang ada di Solo. Jadi, something wrong, kota yang stres akan melahirkan generasi yang stres,” tegas pria 51 tahun ini.

Kerisauan dan kegalauan itu yang mendorong Irfan dan teman-teman dari berbagai elemen dan komunitas di Solo untuk melahirkan Gerakan Solopolah dengan semangat ‘Ekonomi Obah Rakyat Bungah’.

“Solopolah ini adalah bentuk institusionalisasi gerakan. Jika ingin menggawangi gerakan kreatif yang lahir dari kelurahan-kelurahan, maupun kampung-kampung di Kota Solo aka setiap kreativitas, apa pun bentuknya yang muncul, harus melibatkan semua pihak yang concern pada ranah ini. Koneksitas dan sinergisitas kreativitas harus selalu di-manage dengan baik agar kesadaran dan mindset kreatif selalu membakar dan memvirus di setiap lapisan masyarakat,” terangnya bersemangat.

Potensi kreativitas masyarakat Kota Solo, sambungnya, sangat luar biasa, dan dapat dijadikan landasan pengembangaan nilai tambah perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan koneksitas dan jaringan semangat Solopolah inilah ujung tombak pembuka pasar bagi masyarakat.

Solopolah, terang Irfan, harus dapat dijadikan sebagai spirit gerakan yang ada di Kota Solo dari hulu sampai hilir yang dapat benar-benar memberdayakan dan membuat polah masyarakat untuk menghasilkan nilai tambah produktif secara ekonomi.

Indonesia Creative City Network

Irfan menyampaikan, pada 23-25 Oktober 2015 akan diselenggarakan Konferensi Kota Kreatif Nasional di Kota Solo dengan target membentuk Indonesia Creative City Network (ICCN). Ia berharap, seluruh elemen masyarakat di Solo dapat memanfaatkan momentum tersebut sebagai langkah awal bangkitnya semangat kebersamaan, solidaritas, dan perdamaian dalam rangka kemajuan kreativitas di Kota Solo.

“Dengan Kota Solo sebagai tuan rumah dapat membangkitkan sinergisitas antara Pemerintah, akademisi, praktisi, dan media dalam rangka men-support segala kreativitas yang terlahir di tengah-tengah masyarakat, sehingga kota dapat menjadi pembela segenap hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakatnya berbasis kreativitas,” tuturnya.

Solopolah, lanjutnya, merupakan ruh gerakan semua kreativitas yang ada di Kota Solo untuk memperkuat identitas Kota Kreatif.