Rencana Pendirian Pabrik Semen, Warga Giriwoyo Wonogiri Tegaskan Penolakan

MENOLAK - Bundaran Giriwoyo yang menyatu dengan jalur karst. (Foto: Panoramio)
MENOLAK – Bundaran Giriwoyo yang menyatu dengan jalur karst. (Foto: Panoramio)

Wonogiri, SURAKARTA DAILY ** Merespons rencana pendirian pabrik semen, warga Giriwoyo Wonogiri menghadap Bupati dan menyatakan penolakannya. Warga memilih bertani dan menjaga sumber air.

“Kami warga Kecamatan Giriwoyo yang tergabung dalam Paguyuban AJA KWATIR Giriwoyo menghadap Bapak Bupati untuk menegaskan tentang pendapat kami mengenai pertambangan di Giriwoyo. Kami warga menolak adanya pertambangan di Giriwoyo apa pun bentuknya,” ujar Karmin kepada Surakarta Daily, Rabu (3/6/2015).

Karmin menegaskan, warga memilih menjadi petani daripada buruh pabrik semen. Warga merasa telah sejahtera dengan tanah yang dimiliki sekarang untuk bertani dan beternak.

“Tanah dapat kami wariskan ke anak cucu. Kami mencintai desa kami, sebagai pijakan pijakan hidup dan kelangsungan hidup,” ucapnya.

Warga menuntut tanggung jawab pemerintah, khususnya Bupati Wonogiri, yang dinilai telah berusaha merekayasa peraturan agar kampung halaman mereka dipakai sebagai areal pertambangan yang dijual ke investor asing atau investor mana pun juga.

“Dengan adanya rencana pertambangan dan pendirian pabrik semen, membuat kami resah dan menjadikan warga desa saling curiga. Kami tidak anti-pembangunan, yang kami perlukan adalah pembangunan pertanian,” tutur Karmin.

Pelestarian Sumber Air

Paguyuban AJA KWATIR, terdiri dari Paguyuban Sendang Bodro Sejati, Paguyuban Guo Kisworo, Paguyuban Save Pegunungan Sewu, Paguyuban Manunggal Roso, dan Paguyuban Guo Sejati menuntut Bupati Danar Rahmanto untuk menyatakan Giriwoyo bukan wilayah pertambangan.

Selain itu, Bupati diminta mencabut izin usaha pertambangan yang telah di keluarkan, yaitu izin usaha pertambagan (IUP) Eksplorasi Batu Gamping kepada PT Ultratech Mining Indonesia No.545.21/006/2011 tertanggal 28 September 2011.

“Bupati harus mengembalikan kerukunan warga desa, karena pemerintah yang membuatnya. Kecintaan akan desa kami ini kembali ditegaskan dengan adanya potensi desa yang kami miliki dengan jalan mensurvei lokasi yang dijadikan wilayah eksplorasi pertambangan PT Ultratech Mining Indonesia dalam wilayah IUP,” ungkapnya.

Temuan warga, kurang lebih ada 60 sumber mata air, 8 Telaga, 48 Ponor, 27 gua, 15 sumur, tersebar di Desa Tirtosworo, Desa Guwotirto, Desa Sejati, dan Kelurahan Girikikis, yang harus dilestarikan.

Geopark Gunung Sewu

Sementara itu, praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, mengatakan, Geopark Gunung Sewu harus memperhatikan pelestarian karst. Karena, penambangan akan berdampak pada lingkungan dan gaya hidup masyarakat yang tidak selalu baik.

“Ada Museum Karst di Wonogiri, pertanda pentingnya menjaga karst agar tetap lestari. Geopark Gunung Sewu sangat bertumpu pada deretan karst yang membentang di wilayah Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Giriwoyo termasuk kawasan Gunung Sewu,” ungkap Albi.

Ia mengingatkan, pada Selasa (17/2/2015), Pemerintah DIY, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Pemerintah Kabupaten Wonogiri, dan Pemerintah Kabupaten Pacitan melakukan Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pelestarian dan Pengembangan Geopark Gunung Sewu di Bangsal Kepatihan Yogyakarta.

Tujuan penandatanganan, mewujudkan pengembangan dan pelestarian Geopark Gunung Sewu dari aspek perlindungan dan konservasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi masyarakat. Kesepakatan juga melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Geopark merupakan kawasan geografis di mana situs-situs warisan geologis menjadi bagian dari konsep perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan secara holistik.

Gunung Sewu ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia pada 13 Mei 2012 dengan wilayah seluas 1.802 kilometer persegi yang terbagi menjadi 3 GeoArea (Gunung Kidul, Wonogiri, dan Pacitan). Di dalamnya terdapat 33 situs warisan alam (30 situs geologi dan 3 situs non-geologi).

Berdasarkan penilaian asesor United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2014, Geopark Gunung Sewu belum dapat masuk dalam jaringan Geopark UNESCO karena belum optimalnya aspek kelembagaan pengelolaan.

Untuk itulah, dilakukan inisiatif penyusunan kerja sama lintas wilayah dan lintas sektor yang ditandai dengan penandatanganan kerja sama ini.