Revitalisasi Pasar Gede, Sejumlah Pedagang Segera Direlokasi ke Selter Darurat

REVITALISASI - Pasar Gede Kota Solo segera direvitalisasi. (Foto: Humas Pemkot Surakarta)
REVITALISASI – Pasar Gede Kota Solo segera direvitalisasi. (Foto: Humas Pemkot Surakarta)

Kota Solo, SURAKARTA DAILY ** Pemerintah Kota Surakarta akan segera merelokasi puluhan pedagang pelataran Pasar Gede sisi timur ke selter darurat di Jalan Urip Sumoharjo. Sosialisasi telah dilakukan kepada para pedagang.

Relokasi dilaksanakan karena kondisi selter pasar darurat masih layak dan bisa untuk ditempati oleh para pedagang. Para pedagang akan menempati selter darurat selama enam bulan. Relokasi dibarengkan dengan revitalisasi Pasar Gede sisi barat.

Dirilis Humas Pemkot surakarta, revitalisasi pasar dilakukan dengan cara mengembalikan bentuk bangunan seperti semula dengan menggunakan dana dari APBD sebesar Rp3 miliar.

Ada dua program penataan Pasar Gede yang akan dilakukan Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) dan Dinas Pengelola Pasar (DPP). DTRK menata lingkungan Pasar Gede, sementara DPP akan merevitalisasi bangunan Pasar Gede sisi barat.

Bagi warga Solo, peran pasar tradisional seperti Pasar Gede sangatlah besar. Selain memberi ruang pada banyak sekali pedagang, sumbangsih terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangatlah besar. Pasar tradisional menjadi prioritas utama Pemkot Surakarta.

Dilansir dari Wikipedia, Pasar Gede memiliki sejarah panjang. Pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Republik Indonesia yang mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Surakarta kemudian merenovasinya kembali pada 1949.

Perbaikan atap Pasar Gede baru selesai pada 1981. Pemerintah Indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede digunakan untuk kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

Pada Oktober 1999, Pasar Gede dibakar oleh amuk massa. Usaha renovasi dengan mempertahankan arsitektur asli baru bisa selesai dua tahun kemudian. Pada penghujung 2001, Pasar Gede yang diperbaiki bisa digunakan kembali.

Kini, Pasar Gede semakin membaik pelayanannya. Manajemen pasar ikut pula memperhatikan keperluan para penyandang cacat dengan dibangunnya prasarana khusus bagi pengguna kursi roda.

Arsitektur Asli

Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gede mulanya merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektare, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang berubah fungsi menjadi Balaikota Surakarta.

Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan gaya Belanda dan gaya Jawa. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Thomas Karsten. Bangunan pasar selesai pembangunannya pada 1930 dan diberi nama Pasar Gedhé Hardjanagara. Pasar ini diberi nama pasar gedhé atau ‘pasar besar’ karena terdiri dari atap yang besar.

Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar gede terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gedhé dalam Bahasa Jawa.

Jalan Pasar Gede berada di perkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong dan terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak keturunan Tionghoa.

Budayawan Jawa ternama dari Surakarta, Go Tik Swan, seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar KRT (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.

Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dari keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak di Jalan Ketandan.