Pilkada Wonogiri, Wonogiri Butuh Pemimpin Berbudaya

KARAKTER - Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah, menyoroti karakter budaya calon pemimpin Wonogiri. (Foto: Surakarta Daily)
KARAKTER – Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah, menyoroti karakter budaya calon pemimpin Wonogiri. (Foto: Surakarta Daily)

Menjelang digelarnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Wonogiri 2015, kriteria Bupati yang diinginkan publik mulai diketengahkan.

Wonogiri butuh pemimpin berbudaya. Maksudnya, pemimpin yang memimpin dengan nilai kebudayaan mumpuni. Bila ia Jawa, ia sangat berkarakter Jawa dan mengerti produk kebudayaan Jawa. Karakter tersebut sangat dibutuhkan untuk memimpin Wonogiri yang sarat budaya Jawa.

Era berlebih informasi seperti sekarang, autentisitas dan originalitas menjadi penentu diferensiasi dan karakter sebuah daerah. Bila pemimpin sebuah daerah tidak mengerti keaslian yang dipunyai daerah yang dipimpinnya, sangat sulit mengangkat branding kedaerahan.

Dengan asumsi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat dipengaruhi filosofi Jawa serta interaksi perantau Jawa di seluruh Nusantara, sekali lagi, secara kultural, Jawa adalah kunci. Siapa yang berkehendak untuk memimpin Wonogiri, selayaknyalah ia seorang Jawa yang mengerti kejawaannya.

Wonogiri secara sejarah tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Kraton Mangkunegaran. Peran penting Pangeran Samber Nyawa (Raden Mas Said) sebagai Adipati Mangkunegaran bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I dapat diteladani berkat sikap dan sifat kahutaman-nya.

Kahutaman dapat dimaknai sebagai keberanian dan keluhuran budi perjuangan seorang pemimpin. Seorang pemuka masyarakat yang selalu didukung semangat kerja sama seluruh rakyat di Wilayah Kabupaten Wonogiri.

Wonogiri, ketika itu disebut Bumi Nglaroh, tepatnya di Desa Pule Kecamatan Selogiri, menjadi basis perjuangan Raden Mas Said.

Melayani

Pemimpin berbudaya adalah pemimpin yang dapat menderivasikan pemahaman kebudayaan dalam perilaku kepemimpinan dan kelembagaan. Budaya melayani harus dimiliki pemimpin Wonogiri. Dengan pemahaman ini, pengabdian dapat dimengerti dengan berempati, mendengarkan, melihat, turut merasakan, serta hidup bersama warga Wonogiri.

Sulit bila seorang pemimpin tidak berbudaya, lantas ia hanya mengedepankan jabatan dan simbol-simbol kekuasaan. Karena, mustahil Wonogiri dapat maju tanpa didukung masyarakatnya.

Seperti Raden Mas Said yang di-sengkuyung warga Wonogiri. Karena dukungan rakyatlah yang paling penting. Pemimpin bukan lahir serta-merta. Ia lahir karena dirasa dekat dengan warganya.

One thought on “Pilkada Wonogiri, Wonogiri Butuh Pemimpin Berbudaya

Comments are closed.