Pilkada Wonogiri 2015, Heru Daryono: Pemimpin Wonogiri Harus Peduli UMKM

UMKM - Praktisi UMKM asal Wonogiri, Heru Daryono, berharap, Pilkada Wonogiri 2015 dapat berdampak pada kemajuan UMKM. (Foto: Albicia Hamzah)
UMKM – Praktisi UMKM asal Wonogiri, Heru Daryono, berharap, Pilkada Wonogiri 2015 dapat berdampak pada kemajuan UMKM. (Foto: Albicia Hamzah)

Wonogiri, SURAKARTA DAILY ** Pemimpin Wonogiri yang nanti terpilih pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 diharapkan memiliki kepedulian pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sekian waktu pasang-surut perekonomian nasional, UMKM masih bisa bertahan dan menjadi andalan, termasuk Wonogiri.

“Perekonomian nasional sangat bertumpu pada kemandirian perekonomian daerah. Eksisnya ekonomi daerah dibangun dari sektor riil. Pemimpin Wonogiri tidak boleh melupakan peran UMKM untuk membangun keberdikarian ekonomi,” ujar praktisi UMKM Wonogiri, Heru Daryono, kepada Surakarta Daily, Sabtu (23/5/2015), di Wonogiri.

Ia menjelaskan, pada tahap awal, pendataan UMKM perlu dilakukan. Karena, mustahil membangun kekuatan perekonomian daerah dengan UMKM sebagai salah satu tulang punggunnya bisa berhasil, bila akurasi data bermasalah.

“Selama ini, publik kesulitan mengakses informasi mutakhir tentang UMKM di Wonogiri. Jumlahnya berapa, aktivitasnya apa, bagaimana peluangnya, apa promosi yang tengah gencar dilakukan, atau inovasi yang bisa jadi tidak ada di tempat lain. Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan pendataan secara akurat, untuk mengawali gerakan eksistensi UMKM Wonogiri,” terang Heru.

Setelah pendataan, akses terhadap modal tidak selalu menjadi prioritas utama. Karena modal bisa sangat mubazir bila dialokasikan tanpa perencanaan dan kapabilitas yang memadai. Fakta di lapangan banyak ditemukan ketidakefektifan dan ketidakefisiensian alokasi modal, baik dari lembaga keuangan maupun bantuan.

“Berapa pun dana yang digelontorkan, baik dalam bentuk kredit maupun hibah, tidak akan dapat menggerakkan produktivitas UMKM, karena kapabilitas dan integritas pelaku UMKM belum dikawal baik. Jadi, membangun sistem bisnis akan lebih baik, dibanding fokus pada permodalan, meski modal bukan berarti tidak penting,” ungkap Heru.

Selanjutnya, ucap Heru, pendampingan dan monitoring yang dibersamai inovasi produk dan pemasaran menjadi hal penting selanjutnya. Bukan hanya pemerintah, jejaring pebisnis dibutuhkan untuk saling bekerja sama.

“Pada wilayah bisnis, kompetisi adalah hal wajar. Namun, pada zaman ini, preferensi konsumen juga bukan hal mudah diterjemahkan. Artinya, kolaborasi adalah hal niscaya. Dengan membangun komunikasi intensif dan saling mendukung, saya optimis, UMKM Wonogiri dapat berkiprah baik hingga pentas nasional,” jelasnya.

Klasifikasi UMKM

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008, usaha mikro memiliki aset maksimal Rp50 juta dan omset maksimal Rp300 juta.

Usaha kecil memiliki aset lebih dari Rp50 juta hingga Rp500 juta dengan omset lebih dari Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar.

Sementara usaha menengah memiliki aset lebih dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar dengan omset lebih dari Rp2,5 miliar hingga Rp50 miliar.