Pilkada Klaten 2015, Latif Safruddin: Jangan Pilih Pemimpin Korup dan Tidak Pro-Warga Miskin

PILKADA KLATEN - Pegiat pemberdayaan ekonomi Klaten, Latif Safruddin, menyeru kepada warga Klaten untuk memilih pemimpin yang tidak korup. (Foto: Arif Giyanto)
PILKADA KLATEN – Pegiat pemberdayaan ekonomi Klaten, Latif Safruddin, menyeru kepada warga Klaten untuk memilih pemimpin yang tidak korup pada Pilkada Klaten 2015. (Foto: Arif Giyanto)

Jogonalan, SURAKARTA DAILY ** Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 Kabupaten Klaten akan segera digelar. Banyak harapan disampaikan warga. Salah satunya datang dari Latif Safruddin, pegiat pemberdayaan ekonomi dan peneliti di Lembaga Studi Politik dan Hukum Perdamaian (LSPHP) Klaten.

“Jangan pilih pemimpin busuk dan korup, tidak amanah, dan tidak merakyat. Jangan pilih pemimpin yang tidak memikirkan warga miskin Klaten. Kriteria busuk berarti punya masalah sejarah, yang kalau bicara manis tapi faktanya berbeda. Busuk itu berarti suka berbohong pada rakyat. Busuk itu jug berarti pengguna narkoba, penjudi, dan kelakuan jelek lain,” ujar Latif kepada Surakarta Daily, beberapa waktu lalu, di Jogonalan, Klaten.

Ia mengajak warga Klaten untuk memilih pemimpin yang tidak korupsi bersama sama kroninya.

“Saya berharap besar kepada media untuk membantu masyarakat agar memberikan berita atau fakta sebenarnya tentang calon, bukan malah bermain di balik semua itu,” tutur alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut.

Latif juga menyampaikan harapannya kepada ormas NU dan Muhammadiyah agar bisa mengarahkan umat dengan baik, untuk tidak sekadar bermain politik praktis.

“Klaten lebih baik itu bukan hanya baik secara bangunan fisik, tapi justru mental, ruhani, dan kesalehan umatlah yang menjadi keberhasilan,” ucap Latif.

Pengawasan

Latif menyerukan kepada warga Klaten agar jangan mau dibodohi oleh aturan dan permainan yang dilakukan oknum penyelenggara Pilkada untuk memenangkan salah satu kandidat.

“Banyak isu beredar, oknum penyelenggara Pilkada, baik itu KPU, Panwas, serta PPK akan memenangkan salah satu kandidat. Jika itu nyata, berarti demokrasi di Klaten mengalami kemunduran, bahkan penghancuran yang sudah tidak sehat dan fair lagi,” jelas Latif.

Ia menyayangkan beredarnya isu tentang Klaten yang hanya bisa dipimpin oleh wakil salah satu parpol politik, serta tidak memberi peluang pada calon independen.

“Sangat banyak orang hebat, pintar, dan cerdas di Klaten, bahkan banyak Doktor dan Profesor yang justru sukses di luar Klaten. Mari memilih pemimpin yang bisa menjadi panutan masyarakat,” tuturnya.