Milad LPM Pabelan UMS ke-38, Alfian Mujani: Kuasai Opini Media Solo, Semarang, dan Yogyakarta

PENDIRI - Pada Milad ke-38, salah satu pendiri LPM Pabelan UMS, Alfian Mujani, berpesan, LPM Pabelan dapat lebih produktif. (Foto: Dok Pribadi)
PENDIRI – Pada Milad ke-38, salah satu pendiri LPM Pabelan UMS, Alfian Mujani, berpesan, LPM Pabelan dapat lebih produktif. (Foto: Dok Pribadi)

Kota Solo, SURAKARTA DAILY ** Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hendak menggelar perayaan Milad ke-38 pada Sabtu (16/5/2015). Salah satu pendiri Pabelan, Alfian Mujani, memberi ulasan penting seputar sejarah dan eksistensi Pabelan dari masa ke masa.

“Dulu, namanya Lembaga Penerbitan Kampus Mahasiswa (LPKM) Pabelan. Dirancang sebagai jawaban atas kevakuman pers mahasiswa UMS pasca-dibreidelnya Tabloid Mentari oleh Rezim Orde Baru gara-gara mengangkat topik korupsi,” ujar Alfian mengawali kesaksiannya, kepada Surakarta Daily, Rabu (13/5/2015).

Pada waktu itu, sekira 1983-an, Rektor UMS Mohammad Djazman Alkindi meminta Pemimpin Umum Mentari Agus Sumianto dan Alfian sebagai pemimpin redaksi untuk menyiapkan penerbitan baru pengganti Tabloid Mentari yang diberangus Dirjen PPG Departemen Penerangan.

“Pak Djazman sebagai rektor akan mendukung penuh semua biaya penerbitan mahasiswa ini dengan syarat tidak masuk wilayah politik praktis. Tak boleh lagi bicara korupsi. Tak boleh lagi mengkritik pemerintahan Presiden Soeharto,” kenang Alfian.

Penerbitan mahasiswa yang kemudian diberi nama Pabelan itu, sambungnya, hanya boleh membahas berbagai isu berkembang dengan pendekatan akademik. Sejumlah 70 persen isi majalah Pabelan kemudian merupakan kajian akademik yang dituangkan dengan model penulisan ilmiah populer.

Namun lama-kelamaan, naluri jurnalistik para pengelola Pabelan tidak bisa dibendung. Mereka mulai masuk ke ranah investigasi dan reportase.

“Saya sebagai Pemred juga mulai tergoda dengan model-model lampiran investigasi dan reportase yang menjadi ciri khas MBM Tempo. Karena itu, kemudian Pabelan mengubah format penulisannya 60 persen news indept (dan) 40 persen karya ilmiah populer,” tutur pewarta senior tersebut.

Menurut Alfian, diskusi-diskusi politik pun mulai hidup kembali dan gairah jurnalisme kian bergelora. Ia dan kawan-kawan mulai tertantang untuk menjajal ilmu yang diperoleh dari Pabelan di media profesional seperti Suara Merdeka dan Wawasan.

“Gagasan-gagasan yang saya peroleh dalam diskusi di Pabelan sering ditulis di koran Wawasan dan Suara Merdeka. Dan gagasan itu sering memicu polemik dengan aktivis kampus di UKSW, UNDIP, dan lain-lain. Salah topik yang pernah jadi polemik adalah tentang kemandirian berpikir mahasiswa di tengah impitan belenggu kebebasan yang diciptakan rezim Orde Baru,” terangnya.

Lebih Produktif

Sekarang, ketika zaman telah berubah, Alfian berpendapat, para aktivis Pabelan dapat lebih produktif dan ekspansif.

“Seharusnya, para aktivis LPM Pabelan lebih produktif berkarya toh sudah tidak ada lagi penjara kebebasan. Anak-anak Pabelan saat ini mestinya menguasai halaman-halanan opini di koran-koran Solo, Semarang, dan Yogyakarta,” ucap Alfian.

Ia juga menambahkan, alumni LPM Pabelan tidak harus bekerja menjadi jurnalis. Meski demikian alumni harus dapat mengajar dan berdakwah melalui gagasan dan tulisan.

“Selamat Milad LPM Pabelan ke-38. Selamat berkarya,” pungkasnya.

Alfian Mujani kuliah di FKIP Jurusan Bimbingan Konseling. Pada 1983, ia masuk LPKM Mentari dan langsung menjabat Redaktur Pelaksana. Setelah Mentari bermetamorfosis menjadi Pabelan, Alfian diamanahi sebagai Pemimpin Redaksi Pabelan pada 1984.

One thought on “Milad LPM Pabelan UMS ke-38, Alfian Mujani: Kuasai Opini Media Solo, Semarang, dan Yogyakarta

  1. Karena kader pabelan sudah menjadi produsen2 surat kabar mandiri, harusnya kita bisa mempunyai koran sendiri di SOLO RAYA…. betul nggak kawan2?

Comments are closed.