Perekat Surakartan adalah Budaya

PEREKAT - Untuk terus menjaga keterikatan Subosukowonosraten, pegiat sosial budaya, Kun Prastowo, mengatakan, budaya menjadi perekat. (Foto: Arif Giyanto)
Pegiat sosial budaya, Kun Prastowo. (Foto: Arif Giyanto)

Eks-Karesidenan Surakarta, atau Surakartan, atau biasa disebut Subosukowonosraten, yakni akronim dari Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Klaten, bukan hanya entitas perekonomian, tapi juga budaya.

Perekat Surakartan adalah budaya. Kraton Kasunanan Surakarta adalah simpul budaya tersebut. Kini, tradisi kraton tengah diupayakan agar terbebas dari politik praktis dan kepentingan. Warga Subosukowonosraten sebisanya mendukung upaya tersebut.

Gusti Puger tengah berusaha keras menjadikan kraton sebagai pusat budaya sekaligus semangat berbudaya. Kandungan moral budaya Jawa yang direpresentasi oleh kraton diharapkan menjadi pencerah bagi masyarakat Surakartan sekarang. Budaya itu milik rakyat maka rakyat harus berbudaya. Budaya adalah pancaran moral.

Kota Solo merupakan punjering budaya Surakartan. Budaya sekaligus menjadi benteng dalam mempertahankan tradisi, adat istiadat, dan budaya Jawa dari gempuran budaya manca yang kian memprihatinkan.

Biarlah kraton menjadi semangat budaya Wong Jawa, tanpa terkontaminasi kepentingan dan politik praktis. Biar suaranya terdengar dan murakabi bagi rakyat. Saya memandang pentingnya pengembalian marwah rakyat di tengah pranata sosial yang kian hedonis, liberatif, dan bahkan menggerus kearifan lokal.

Forum Laskar Budaya Mataram

Forum yang mungkin perlu segera diadakan adalah Forum Laskar Budaya Mataram. Forum ini diharapkan menjadi pereda konflik antar-wilayah Subosukowonosraten. Forum Laskar Budaya Mataram (FLBM) diisi stakeholder tanpa membedakan latar belakang. Selain itu, terbebas dari politik praktis.

Nama Mataram dapat dipahami dan diterima keberadaannya sebagai bagian sejarah di Tanah Jawa. Peran FLBM lebih pada pendekatan moral dalam menyelesaikan setiap permasalahan di setiap wilayah dan secara bersama-sama harus saling mendukung. Semangat kebersamaan (gotong royong) harus menjadi perekat bagi forum.

Contoh, ketika terjadi ketidaksepahaman mengenai perluasan kawasan TPA Putri Cempo antara Pemkot Surakarta dengan Pemkab Karanganyar maka FLBM bila perlu melakukan tapa pepe di Alun-alun Karanganyar dan depan Balaikota Surakarta agar kedua pemerintah daerah bersedia merampungkan permasalahn secara damai, tanpa harus menang-menangan dan terlalu mengagung-agungkan, demi pendapatan asli daerah.

Apalagi belakangan, sedang dilakukan kajian akademik, mempersiapkan analisis pemekaran wilayah, Provinsi Solo Raya.

Kita semua menyadari bahwa yang telah hilang dari peranan para pejabat publik adalah terjadinya krisis moral maka sudah selayaknya apabila rakyatlah yang harus mengambil peranan itu agar sisi moral itu tidak hilang ditelan bumi.