Karakteristik Budaya Psikologis Pengaruhi Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi

KUALITAS KAMPUS - Praktisi HRD, Etik Rahmawati, menilai, kualitas kampus memengaruhi kualitas lulusannya. (Foto: Arif Giyanto)
KUALITAS KAMPUS – Praktisi HRD, Etik Rahmawati, menilai, kualitas kampus memengaruhi kualitas lulusannya. (Foto: Arif Giyanto)

Kualitas lulusan perguruan tinggi di eks-Karesidenan Surakarta memiliki karakteristik budaya psikologis berbeda-beda. Hal tersebut memengaruhi budaya kerja dan mencerminkan kualitas kampus almamater.

Antar satu kampus dengan lainnya memiliki cerminan sivitas akademika yang berbeda satu sama lain. Psikologis budaya Mahasiswa di Solo yang masih sangat Jawa, berbeda dengan Jogja yang sudah multikultur. Kampus mayoritas memengaruhi kampus minoritas.

Dalam hal ini, yang paling berpengaruh pada kualitas lulusan adalah budaya kampus, terutama mindset pengajar dan materi yang diajarkan.

Ada beberapa kampus yang bisa dianggap sebagai ‘kampus pelarian’ atau sekadar asal kuliah. Umumnya, kampus ini berisi kalangan menengah ke bawah. Ada pula kampus besar yang lebih berkualitas. Budaya kampus tersebut sangat berpengaruh pada kualitas lulusan. Kampus punya peran penting dalam mempersiapkan lulusannya.

Sejauh pengalaman saya sebagai HRD, umumnya mahasiswa yang sudah dipersiapkan secara konsep dan teknis dari kampus sudah siap tempur, mau bekerja keras, tidak lembek, cekatan, tidak kaku, mau memulai pekerjaan dari nol. Mereka siap kerja apa pun walau background pendidikan tidak sama.

Lulusan kampus mesti siap menghadapi persaingan kerja di luar sana. Pasalnya, kompetisi antar lulusan dari setiap kampus punya visi-misi berbeda. Setiap perusahaan juga punya kriteria sendiri. Daya serap pun mesti dipertimbangkan. Dari hal itu, kampus lagi-lagi punya peran penting untuk menanganinya.

Setiap Career Center di masing-masing kampus mesti sigap dalam bekerja sama dengan perusahaan mana pun. Akses masuk online-nya juga perlu dipermudah. Saya sendiri pernah memasang lowongan aplikasi via email. Hasilnya pun cukup signifikan. Banyak lamaran berdatangan bahkan dari berbagai macam kampus.

Kompetisi Global

Saya sendiri menilai banyak dosen memberikan gambaran positif tentang dunia kerja kepada mahasiswa, dan ini yang perlu dihubungkan pada realitas dunia kerja. Karenanya kampus bisa merekrut orang-orang berpengalaman dan profesional di bidangnya, serta bekerja sama dengan perusahaan atau instansi yang match dengan jurusan yang ada, agar demand dan ouput sesuai.

Untuk perusahaan yang bervisi world class, sebenarnya terlihat kalau pendidikan di Indonesia masih kurang siap membekali mahasiswanya. Tenaga kerja terbaik saat ini dari Filipina. Di sana balai latihan kerja diperkuat. Banyak orang Filipina bekerja untuk Sritex. Selain Filipina, Korea Selatan dan Tiongkok juga sangat bagus. Di sini, banyak Sumber Daya Manusia (SDM) terkendala bahasa. Banyak yang tidak lancar berbahasa Inggris. Banyak pula yang tidak punya kepercayaan diri, meski secara kemampuan sebenarnya sama.

19 thoughts on “Karakteristik Budaya Psikologis Pengaruhi Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi

  1. Agustian Deny Ardiansyah

    - Edit

    ANDA BELUM PERNAH MELAKUKAN STUDI BANDING KE PROGRAM STUDI PEND.GEOGRAFI UMS. Kata anda mahasiswa UNS siap tempur, mau bekerja keras, tidak lembek, cekatan, tidak kaku, mau memulai pekerjaan dari nol. Mereka siap kerja apa pun walau background pendidikan tidak sama. Minta gajinya pun tidak muluk muluk,” ucap Etik. coba lihat kami belajar dan menekuni bidang Ilmu, kami lulusan angkatan 2010 ada yang sekarang membangun karir dari 0 menjadi guru honorer, bahkan diluar bidang kependidikan atau menjadi surveyor atau lapangan……

  2. Ini penelitian samplenya berapa orang ya, saya lulusan UMS fak. Geografi. saya bisa kerja di konsultan managemen, pernah kerja di sektor telekomunikasi dan kerja di perkereta apian kok.

  3. Kromoinangun

    - Edit

    Artikel dan ucapan Etik Rahmawati sangat tidak etis. Seharusnya situs ini mengadakan pengeditan mana yang pantas diucapkan dan mana yang tidak. Kalau begitu Etik Rahmawati adalah sosok kacang yang lupa akan kulitnya,

  4. Saya sebagai alumni Fak. Psikologi UMS sangat menyayangkan pernyataan nya mba Atik ini selaku sealumni dan media ini juga menuliskan berita yang tidak ditela’ah dulu dari databdan fakta yang riil (*Asal nulis asal share). Yang saya tahu kita di fak. Psikologi di ajarkan kode etik tata cara penyampaian informasi yang benar disertakan fakta dan data. Mudah2an penyampaian ini tidak berdampak buruk bagi anda sendiri dan semua alumni di psikologi UMS. Hayoo petanggungjawabannya sangat ditunggu lho mbak..

  5. Ini orang pengalamannya belum banyak kok diwawancarai. Dia belum tahu UMS secara menyeluruh. Cocok dg ungkapan “rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput sendiri”. Alamak….
    Ingat ungkapan The Man Behind The Gun, semua tergantung personnya.
    Bawaannya malas ya malas, kalau kreatif ya kreatif, kalau rajin ya rajin. Saya lulusan PTN. Di situ banyak yg kualitas mhsnya kurang dibanding PTS. Masalah etos kerja, kesungguhan, dll.
    Denger2 UMS malah masuk di antara 10 PTS terbaik se-Indonesia

  6. Wah kayaknya penulisan berita ini terlalu tendensius. Ya sebenarnya nggak bisa dibandingkan uni to uni gitu mbak, Wong jumlah mahasiswanya aja tiap fakultas antara UNS dan UMS beda, contoh: S1 FE UNS mungkin per angkatan sekitar 100 an mahasiswa, bandingkan sama FE UMS yang per angkatan 500an mahasiswa, ya jelas beda. yang jelas, kalau kita nilai orang perorang, yang dari UMS banyak yang berhasil juga mbak. banyak rekan saya yang berdinas di kementerian, Pemda, BUMN dan beberapa Perusahaan baik PMDN maupun PMA. Bahkan ada beberapa lulusan FE UMS yang berkarir di proyek-proyek internasional baik dari World Bank, USAID, AUSAID maupun ADB. Belum lagi yang menjadi wiraswastawan, banyak banget mbak, yang jelas setahu saya, dari teman-teman yang seangkatan, hampir tidak ada yang berpangku tangan alias nganggur. Begitu mbak pendapat saya. Matur Nuwun.

  7. Hehehe……
    Dari masukan sekolah-sekolah yanga dipakai PPL UMS dan UNS, ternyata mahasiswa UMS dianggap lebih cekatan, lebih tanggap terhadap pekerjaan, lebih mudah beradaptasi dan lebih memiliki sopan santun…. Tetap semangat mahasiswa UMS, jangan berkecil hati, tunjukkan bahwa anda bisa bersaing dimanapun. Bravo!!!!

  8. Perasaan tulisan mbak ini gak jelek-jelekin UMS. Ini kan cuma gambaran secara umum. Tergantung juga sudut pandang dari mana

  9. erwan nurhidayat

    - Edit

    Apa yang dikatakan beliau harus dipahami sebagai motivasi semua alumni UMS untuk bisa lebih maju dan menjadi sukses

  10. Fuad Ari Sulistyo

    - Edit

    Mohon untuk diklarifikasi… Sebagai alumni UMS saya merasa keberatan dengan tulisan ini… Mohon klarifikasi dari nara sumber maupun penulisnya… Ini pernyataan ngawur dan bisa menyakiti banyak orang terutama institusi UMS dan para alumninya…

  11. Jadi malu sebagai bagian dari anda yg nota bene saya adalah lulusan psikologi UMS… tapi.. anda bisa kok tampilkan hasil riset anda sebagai bukti bahwa apa yg anda sampaikan adalah bukan tulisan yg tak berisi.

  12. Ibu etik rahmawati yg terhormat, mungkin anda perlu membuka lagi dan belajar lagi dg mahasiswa smt 1 mata kuliah kode etik psikologi..

  13. Hahahah…hajar terus wakaaa jadi biarlah apa yang diungkapkan mbak etik ini sebagai HRD yang mempunyai kopian ijasah lamaran dari berbagai PTS PTN ribuan setelah dianalisis dan diwawancara akhirnya data UMS lebih jelek banding yang lain jangan kebakaran jengot para alumni…saya juga alumni aktifis tapi bukan aktifis ISIS kayak diberitakan media …fakta mahasiswa ums juga ada. jadi UMS hanya wacana keilmuan dan keislaman bukan kader muhammadiyah apa lagi kader siap kerja…biar melek media dosennya brapa dan mana yang pernah nulis dikompas mana mana alumni ums ehmm jauhlah

  14. alfian fahrur

    - Edit

    Etik tidak punya etika, dan menurut saya anda tidak berpendidikan dilihat dari wawancara nya, pfft gak gaholllll kurang garang kak

  15. Yang d tulis itu benar-benar hasil wawancara, atau hanya berita yang dikemas tampak menarik agar menimbulkan polemik? Hanya sekedar mengingatkan teman-teman, jangan mudah terprovokasi, saya salah satu mahasiswa yang kuliah di 3 universitas sekaligus, Ugm, Uii dan Undip, masing-masing universitas memiliki kekurangan dan kelebihan, begitupula alumninya, memiliki keunggulan masing-masing.. jadi… mari berpikir ulang, apa betul seorang alumnus akan menjelekkan nama almamaternya sendiri..

  16. Mba…mba….br jd HRD kecek2 aj beraninya ngejust alumni lulusan UMS,kalau mau riset coba dijakarta banyak alumni UMS yang sukses. Jangan hanya riset didaerah solo jadinya seperti katak dalam tempurung

Comments are closed.