Karakteristik Budaya Psikologis Pengaruhi Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi

Ilustrasi pelaksanaan sertifikasi kompentensi untuk tingkatkan kualitas lulusan. FOTO PCR

Kualitas lulusan perguruan tinggi di eks-Karesidenan Surakarta memiliki karakteristik budaya psikologis berbeda-beda. Hal tersebut memengaruhi budaya kerja dan mencerminkan kualitas kampus almamater.

Antar satu kampus dengan lainnya memiliki cerminan sivitas akademika yang berbeda satu sama lain. Psikologis budaya Mahasiswa di Solo yang masih sangat Jawa, berbeda dengan Jogja yang sudah multikultur. Kampus mayoritas memengaruhi kampus minoritas.

Dalam hal ini, yang paling berpengaruh pada kualitas lulusan adalah budaya kampus, terutama mindset pengajar dan materi yang diajarkan.

Ada beberapa kampus yang bisa dianggap sebagai ‘kampus pelarian’ atau sekadar asal kuliah. Umumnya, kampus ini berisi kalangan menengah ke bawah. Ada pula kampus besar yang lebih berkualitas. Budaya kampus tersebut sangat berpengaruh pada kualitas lulusan. Kampus punya peran penting dalam mempersiapkan lulusannya.

Sejauh pengalaman saya sebagai HRD, umumnya mahasiswa yang sudah dipersiapkan secara konsep dan teknis dari kampus sudah siap tempur, mau bekerja keras, tidak lembek, cekatan, tidak kaku, mau memulai pekerjaan dari nol. Mereka siap kerja apa pun walau background pendidikan tidak sama.

Lulusan kampus mesti siap menghadapi persaingan kerja di luar sana. Pasalnya, kompetisi antar lulusan dari setiap kampus punya visi-misi berbeda. Setiap perusahaan juga punya kriteria sendiri. Daya serap pun mesti dipertimbangkan. Dari hal itu, kampus lagi-lagi punya peran penting untuk menanganinya.

Setiap Career Center di masing-masing kampus mesti sigap dalam bekerja sama dengan perusahaan mana pun. Akses masuk online-nya juga perlu dipermudah. Saya sendiri pernah memasang lowongan aplikasi via email. Hasilnya pun cukup signifikan. Banyak lamaran berdatangan bahkan dari berbagai macam kampus.

Kompetisi Global

Saya sendiri menilai banyak dosen memberikan gambaran positif tentang dunia kerja kepada mahasiswa, dan ini yang perlu dihubungkan pada realitas dunia kerja. Karenanya kampus bisa merekrut orang-orang berpengalaman dan profesional di bidangnya, serta bekerja sama dengan perusahaan atau instansi yang match dengan jurusan yang ada, agar demand dan ouput sesuai.

Untuk perusahaan yang bervisi world class, sebenarnya terlihat kalau pendidikan di Indonesia masih kurang siap membekali mahasiswanya. Tenaga kerja terbaik saat ini dari Filipina. Di sana balai latihan kerja diperkuat. Banyak orang Filipina bekerja untuk Sritex. Selain Filipina, Korea Selatan dan Tiongkok juga sangat bagus. Di sini, banyak Sumber Daya Manusia (SDM) terkendala bahasa. Banyak yang tidak lancar berbahasa Inggris. Banyak pula yang tidak punya kepercayaan diri, meski secara kemampuan sebenarnya sama.