Harkitnas 2015, Sinung Nugroho: Kemajemukan Eks-Karesidenan Surakarta Modal Kebangkitan Jawa Tengah

HARKITNAS - Kepala Biro Humas Pemprov Jawa Tengah, Sinung Nugroho, mengatakan, kemajemukan eks-Karesidenan Surakarta menjadi potensi besar kebangkitan Jawa Tengah. (Foto: Arif Giyanto)
HARKITNAS – Kepala Biro Humas Pemprov Jawa Tengah, Sinung Nugroho, mengatakan, kemajemukan eks-Karesidenan Surakarta menjadi potensi besar kebangkitan Jawa Tengah. (Foto: Arif Giyanto)

Gubernuran, SURAKARTA DAILY ** Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei 2015 kemarin memberi arti penting bagi Bangsa Indonesia. Berbagai doa dan harapan mengalir untuk Indonesia lebih baik. Optimisme kebangkitan salah satunya disampaikan Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sinung Nugroho.

“Pemerintah Daerah di eks-Karesidenan Surakarta sangat heterogen. Sejarahnya, di sana banyak sekali tumbuh gerakan perjuangan. Potensi tersebut dapat menjadi modal penting kebangkitan Jawa Tengah,” ujar Sinung kepada Surakarta Daily, Kamis (21/5/2015).

Ia menjelaskan, momentum Harkitknas adalah panggilan sejarah untuk membuktikan kesiapan warga negara untuk merawat republik dengan karya dan kerja nyata.

“Jawa Tengah ini sentral gravitasi Nusantara. Artinya, Jawa Tengah menjadi barometer strategis semua aspek kehidupan berbangsa, termasuk kehidupan ekonomi. Dalam konteks ini, gerak maupun denyut Jawa Tengah sangat besar efeknya terhadap keindonesiaan kita,”

Pada momentum Harkitnas 2015, Sinung mengajak untuk bangkit dari kesalahan dan kekurangan serta melangkah untuk memperbaiki diri dan mengambil peran lebih baik untuk Ibu Pertiwi.

“Menyentuh Jawa Tengah berarti telah membuka jalan bagi pengenalan keindonesiaan secara keseluruhan. Jawa Tengah terpanggil memenuhi panggilan sejarah bukan saja sebagai Benteng Pancasila, namun sekaligus berperan penting di tengah dinamika bersama provinsi lain untuk memaksimalkan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat luas,” tutur alumnus UGM Yogyakarta tersebut.

Menurut Sinung, Jawa Tengah akan terus menjaga kebangkitannya di setiap aspek kehidupan. Momentum Kebangkitan Nasional adalah alarm pengingat, sejauh apakah karya yang sudah dilakukan.

“Maka berpaculah dengan raihan prestasi, bahkan seolah amnesia waktu. Lebih baik kita belajar dari kesalahan untuk bangkit. Keberhasilan menjadi pembelajaran sesama. Karena tidak penting berapa kali kita jatuh, tapi berapa kali kita bangkit di setiap kejatuhan,” ucap Sinung.

Kesiapan SDM

Sinung mengatakan, pada konteks Jawa Tengah, hal yang harus diselesaikan adalah kesiapan Pemprov dan masyarakat untuk menerima arus gelombang investasi berupa kesiapan SDM berkualifikasi dan kompeten serta kesiapan lahan.

“Kebangkitan ini konteksnya menyadari hidup dalam taman sarinya pergaulan internasional. Interaksi antar-bangsa itu untuk saling hormat dan menghargai kedaulatan dan memberi manfaat. Maka investasi adalah wujud kecil dari interaksi saling memberi manfaat antar-bangsa,” terangnya.

Di sisi lain, sambungnya, pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mandiri perlu didorong, terutama industri kreatif generasi muda yang bangkit membuktikan karya gagasan bagi bangsanya.

“Kita ini raksasa tidur. Mari buktikan jika dunia kreatif, terutama anak muda, sudah berjalan lancar, maka akan signifikan dampaknya,” pungkas Sinung.