Harkitnas 2015, Budi Gunawan Sutomo: Gerakan Mahasiswa Tidak Harus Turun ke Jalan

HARKITNAS - Aktivis mahasiswa Solo 1998, Budi Gunawan Sutomo, dalam Pelantikan Asosiasi Fiskal Indonesia (AFI) DIY, beberapa waktu lalu. (Foto: Arif Giyanto)
HARKITNAS – Aktivis mahasiswa Solo 1998, Budi Gunawan Sutomo, dalam Pelantikan Asosiasi Fiskal Indonesia (AFI) DIY, beberapa waktu lalu. (Foto: Arif Giyanto)

Jakarta, SURAKARTA DAILY ** Menjelang Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/5/2015), refleksi terhadap gerakan mahasiswa sebagai motor penggerak penting perubahan perlu diketengahkan. Budi Gunawan Sutomo, seorang aktivis 1998 alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyampaikan pendapatnya.

“Menurut saya, Gerakan Mahasiswa itu tidak identik dengan turun ke jalan. Itu kuno. Ini juga karena mitos yang lalu-lalu kalau Gerakan Mahasiswa itu berhasil kalau sudah bisa menurunkan presiden,” ujar Bugusu, begitu ia akrab disapa, kepada Surakarta Daily, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, Gerakan Mahasiswa sekarang lebih kreatif. Mereka membentuk komunitas-komunitas dan jaringan-jaringan dengan memanfaatkan teknologi. Isu atau resultante yang dihasilkan pun tidak melulu soal politik.

“Bayangkan, hanya dengann fesbukan, twitteran, ngeblog, kita bisa menebar isu ke seluruh dunia dan punya efek getar. Bandingkan dengan aksi puluhan orang yang sudah menyita tenaga dan waktu, sementara belum tentu isunya membesar,” kata mantan Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan/Kepemudaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukoharjo tersebut.

Budi mengatakan, telah waktunya mahasiswa menjadi bagian dalam pembangunan.

“Mahasiswa dapat menjadi profesional kalau yang pintar sewaktu kuliah. Jadi pengusaha kalau yang tidak pintar akademiknya. Bisa banting setir jadi pemimpin atau politikus kalau pandai bergaul, walaupun tidak pintar akademisnya,” ucap Budi.

Penokohan, Bukan Ideologi

Bugusu mengungkapkan, masyarakat Indonesia tidak mengenal idelogi, tapi lebih pada tokoh. Untuk menyatukan gerakan, sambung Budi, tidak harus dengan ideologi atau isu, tapi tokoh. Masyarakat lebih mudah menerima dan mendefinisikannya.

“Dalam teori perubahan sosial, kerap kali instrumen perubahan dihubungkan dengan teori, ideologi, partai pelopor dan lainnya. Padahal, yang terjadi di Indonesia itu justru tokoh sebagai instrumen perubahan. Dibanding ideologi, masyarakat kita lebih mengenal SARA,” tutur alumnus FAI Ushuluddin UMS tersebut.

Ia berkesimpulan, pada orientasi politik seperti penokohan atau penyatuan isu bersama, Gerakan Mahasiswa telah gagal.

“Tren ke depan adalah bisnis jaringan. Semakin wadah yang dibuat bisa menampung banyak orang maka semakin besar peluang yang akan didapat,” kata Budi.

Budi mencontohkan, bank adalah proxy dari nasabah yang berlebih uang. Bank hanya wahana, tapi dari bank lahir jutaan kreativitas bisnis yang membuat pemilik wahana kaya raya.

“Facebook dan jaringan medsos lainnya adalah proxy yang menghubungkan dunia tanpa batas dan masuk ke dalam saku celana Anda. Medsos hanya wahana yang diciptakan, namun dari medsos lahir jutaan kreativitas bisnis yang mendatangkan uang bagi pemilik wahana,” pungkasnya.