Hari Jadi Wonogiri ke-274, Mari Kembali ke Pranata Asli Wonogiri

PRANATA - Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, memberi garis tegas tentang pentingnya pranata Wonogiren. (Foto: Surakarta Daily)
PRANATA – Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, memberi garis tegas tentang pentingnya pranata Wonogiren. (Foto: Surakarta Daily)

Kabupaten Wonogiri berusia 274 tahun, pada Selasa (19/5/2015) kemarin. Berbagai doa dan harapan diketengahkan publik sebagai bentuk optimisme menyambut masa depan Wonogiri yang bisa jadi akan sangat dinamis. Salah satunya datang dari praktisi promosi daerah putra daerah Wonogiri, Albicia Hamzah.

Selamat Hari Jadi Wonogiri ke-274. Alhamdulilah, satu-satunya pemerintah daerah tingkat II di eks-Karesidenan Surakarta yang memiliki pantai ini masih tegak berdiri, meski banyak persoalan belum juga pungkas.

Untuk membangun Wonogiri, mengundang masuk investasi dengan terburu-buru bukanlah hal bijak. Karena, kesiapan masyarakat menerima perubahan bukanlah hal sepele. Bisa jadi, tanpa perencanaan cukup, warga Wonogiri bisa kehilangan identitas aslinya.

Setiap daerah pasti menginginkan kemajuan perekonomian. Salah satu caranya, dengan membuka keran investasi. Meski demikian, investasi daerah harus dibarengi dengan tingkat pendidikan warga yang sebanding. Tanpa itu, investasi akan dominan, sementara warga terpaksa terjebak dalam situasi itu.

Saya khawatir, karena faktanya, banyak sekali daerah yang justru mengalami keadaan memprihatinkan, setelah kebanjiran investasi. Contohnya, daerah-daerah yang berubah menjadi kota industri seperti Batam, Tangerang, atau Bekasi. Di sana, masyarakat seperti tidak punya kuasa atas tanah kelahirannya.

Bukan berarti meniupkan isu penduduk asli versus pendatang, tapi perhatian kita kepada pengembangan ekonomi daerah harus selalu berbanding lurus dengan eksistensi warga sekitar, agar ketimpangan dapat diantisipasi.

Pranata Asli

Pada momentum Hari Jadi Wonogiri ke-274, telah waktunya masyarakat Wonogiri kembali kepada pranata asli. Pranata asli dapat disebut dengan kewonogirian atau wonogiren. Maksudnya, warga Wonogiri memiliki pelembagaan nilai luhur yang turun-temurun tetap dijaga agar keseimbangan terwujud. Pranata tersebut misalnya tepo seliro dan unggah-ungguh.

Dengan memegangi pranata sosial dan budaya, karakter Wonogiri tidak akan luntur, meski zaman terus berubah. Saling menghormati, saling mendukung, dan saling memiliki adalah cara warga Wonogiri untuk menjaga kenyamanan tempat kelahiran.

Meski pada kenyataannya, menjaga pranata ini bukan hal mudah. Problem yang mengemuka sekarang tentang gaya hidup dan cara berpikir yang bukan wonogiren seperti tidak dapat dikendalikan. Political will dan keteladanan, kuncinya.

Untuk memantapkan pranata, peran masing-masing stakeholder sangat diharapkan. Dengan bersama-sama, Wonogiri akan tetap eksis sebagai daerah yang berkarakter dan tidak nggumunan pada perubahan.