Hardiknas, Muhammad Arif Babkher: Pentingnya Keteladanan Guru

SERTIFIKASI - Guru SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar, Muhammad Arif Babkher, mengusulkan sertifikasi guru swasta. (Foto: Akun Facebook Arif Babkher)
SERTIFIKASI – Guru SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar, Muhammad Arif Babkher, mengusulkan sertifikasi guru swasta. (Foto: Akun Facebook Arif Babkher)

Karanganyar, SURAKARTA DAILY ** Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), kemarin, Sabtu (2/5/2015), banyak kalangan berharap pada perbaikan pendidikan di Indonesia. Salah satunya datang dari Arif Babkher, seorang guru SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar.

Ia menyarankan pencabutan sertifikasi bagi guru PNS dan hanya memberlakukan sertifikasi bagi guru swasta.

“Karena, sertifikasi bagi guru PNS itu berlebihan. Merusak karakter guru secara masif. Tunjangan sertifikasi itu cukup guru swasta. Guru PNS kan sudah mendapatkan banyak tunjangan. Kalau guru PNS masih diberi tunjangan sertifikasi tiap bulan senilai gajinya, lantas pertanyaannya, ia digaji negara karena apanya?” ujarnya.

Menurut Arif, Hardiknas tinggal seremoni belaka. Semangatnya terkubur oleh output-output pendidikan.

“Mereka-mereka yg memperingati Hardiknas hidup mewah dan hedon. Dengan sendirinya, itu menjadi daya tarik bagi peserta didik untuk berorientasi sebagaimana pendidiknya,” tutur alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut kepada Surakarta Daily, Sabtu (2/5/2015).

Ia menjelaskan, penyebab hal tersebut adalah keteladanan penyelenggara negara yang memprihatinkan.

“Para penyelenggara negara sebagai pusat perhatian rakyat, khususnya bagi peserta didik justru hidup kaya raya dari gaji besar yang diperas dari keringat rakyat, kolusi, dan nepotisme,” terang Arif.

Arif menyoroti impak paling mengkhawatirkan dari realitas tersebut.

“Previlasi PNS yang di dalamnya termasuk guru teramat luar biasa. Tidak sedikit guru PNS ditambah sertifikasi yang membeli mobil di atas Rp200 juta. Belum rumahnya. Padahal, tidak ada pengasilan lain. Kemudahan kredit senilai ratusan juta dengan jaminan selembar SK PNS. Tiap tahun, piknik dibayari negara. Dan masih banyak lagi. Ini kan merusak upaya pencapaian cita-cita bangsa yang berketuhanan,” tegas mantan Ketua Umum HMI Cabang Sukoharjo ini.

Kualitas Guru

Ia berpendapat, apabila para gurunya berperilaku tidak layak diteladani, lantas anak didiknya ada yang masuk akademi aparat negara, bisa dipastikan, tidak mungkin sang anak lebih baik dari gurunya.

“Pejabat-pejabat negara hari ini adalah hasil didikan guru-guru tahun 1970-an, di mana guru-guru pada tahun-tahun itu masih berkarakter pejuang. Mereka Hidup sederhana, menjunjung tinggi moralitas, dan mengajar dengan hati,” kata Arif.

“Guru-guru yang berkarakter mulia saja masih bisa menghasilkan generasi-generasi yang pandai mengkriminalisasi, selingkuh, dan kekerasan aparat hukum, apalagi guru hari ini?” tuturnya.