Tujuan Wisata, Kota Solo Aplikasikan Parkir Elektronik

PARKIR ELEKTRONIK - Sosialisasi Perda No. 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah Perihal Pemberlakuan Tarif Progresif dengan Aplikasi Parkir Elektronik di Pendapi Gedhe Balai Kota Surakarta, Sabtu (25/4/2015). (Foto: Humas Pemkot Solo)
PARKIR ELEKTRONIK – Sosialisasi Perda No. 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah Perihal Pemberlakuan Tarif Progresif dengan Aplikasi Parkir Elektronik di Pendapi Gedhe Balai Kota Surakarta, Sabtu (25/4/2015). (Foto: Humas Pemkot Solo)

Kota Solo, SURAKARTA DAILY ** Kota Solo telah menjadi salah satu tujuan wisata, sehingga masalah penataan parkir dan besaran retribusi ikut memberikan citra. Para pengelola dan juru parkir diminta untuk profesional dalam melaksanakan aturan parkir progresif.

“Begitu juga dengan masyarakat pengguna jasa parkir, harus menyadari bahwa parkir progresif ini adalah untuk melaksanakan Perda yang telah ditetapkan oleh Lembaga DPRD,” ujar Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo saat Sosialisasi Perda No. 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah Perihal Pemberlakuan Tarif Progresif dengan Aplikasi Parkir Elektronik di Pendapi Gedhe Balai Kota Surakarta, Sabtu (25/4/2015).

Dirilis Humas Pemkot Solo, sosialisasi digelar UPTD Perparkiran Dishubkominfo Kota Surakarta sekaligus dilakukan simulasi alat parkir elektronik.

Sosialisasi diharapkan dapat membangun kebersamaan masyarakat untuk membangun budaya gotong royong, budaya memiliki, budaya merawat, budaya menjaga, dan budaya mengamankan Kota Solo menuju kesejahteraan bersama.

Penataan Tiga Kawasan

Pada 2015, Pemerintah Kota Surakarta berencana melakukan penataan pada tiga kawasan, yakni Jalan S. Parman, Jalan Sabang, dan Monumen 45 Banjarsari. Estimasi anggaran penataan tiga kawasan mencapai Rp20 miliar.

Pemkot tengah berkoordinasi dengan SKPD terkait untuk melakukan penataan di tiga kawasan tersebut. SKPD yang dimaksud adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP).

Penataan tiga kawasan bertujuan mengembangkan kawasan setempat sehingga lebih bermanfaat, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, pariwisata, maupun pelestarian lingkungan.

Salah satu contoh, Monumen 45 Banjarsari. Nantinya, monumen yang pernah dihuni ribuan PKL akan difungsikan sebagai laboratorium lingkungan hidup. Rencananya, akan disediakan sarana pengelolaan sampah, pengelolaan air, dan lokasi pengembangan tanaman serbaguna.

Masyarakat bisa memfungsikan kembali tempat tersebut untuk kegiatan pendidikan berbasis alam dan lingkungan. Sejauh ini, Badan Lingkungan Hidup (BLH) telah mengadakan sayembara konsep dan desain penataan Monumen 45 Banjarsari.