Pilkada Wonogiri, Isu Kepemimpinan Muda Tidak Relevan

PILKADA WONOGIRI - Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, menilai isu kepemimpinan muda pada Pilkada Wonogiri 2015 tidak lagi relevan. (Foto: Arif Giyanto)
PILKADA WONOGIRI – Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, menilai, isu kepemimpinan muda pada Pilkada Wonogiri 2015 tidak lagi relevan. (Foto: Arif Giyanto)

Isu kepemimpinan muda tidak lagi relevan dalam Pilkada Wonogiri yang akan segera digelar, Desember 2015. Pasalnya, selama satu periode kepemimpinan tokoh muda, Wonogiri belum juga entas dari persoalan mendasar, hajat hidup orang banyak.

Pada Pilkada Wonogiri kali ini, isu kepemimpinan muda tidak tepat. Publik Wonogiri dapat menilai dengan obyektif, banyak persoalan turun-temurun Wonogiri yang belum juga tertangani, seperti kekeringan di kawasan selatan atau efektivitas pelayanan publik.

Pilkada Wonogiri 2015 berbarengan dengan momentum Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yakni era perdagangan bebas yang mengharuskan setiap daerah memiliki diferensiasi karakter. MEA 2015 membuka partisipasi bisnis semua negara ASEAN, tanpa hambatan. Sebuah keadaan yang mendesak direspons, karena Wonogiri di ambang kompetisi luar biasa.

Sekuat tenaga branding Wonogiri dilakukan, bila tanpa dukungan pemerintah daerah, tentu saja bukan hal mudah. Pemda berperan sebagai administrator dan eksekutif praktik fiskal daerah. Tentu saja maju-tidaknya Wonogiri sangat tergantung pada peran Pemda, meski bukan satu-satunya.

Momentum Pilkada Wonogiri 2015 menjadi titik tumpu penting mengangkat pencitraan Wonogiri dengan segala potensi yang ada. Kesalahan dalam memilih pemimpin akan berdampak serius pada lima tahun mendatang. Untuk itu, kejernihan berpikir dan empati yang dalam dibutuhkan agar tidak terjebak pada lubang sama.

Ibarat belantara, Wonogiri membutuhkan sosok pekerja keras yang telah berpengalaman untuk membongkar potensi laten. Sosok tersebut bukan hanya tokoh lokal, karena untuk membangun Wonogiri di zaman pasar bebas seperti sekarang, koneksitas nasional sangatlah diperlukan.

Meski demikian, sosok berpengalaman tersebut sebaiknya didampingi tokoh muda, dengan pertimbangan share power dan regenerasi. Tokoh muda ini menjadi inspirasi pendorong mobilitas dan kreativitas generasi muda Wonogiri.

Saya optimis, Wonogiri akan dalam performa tertingginya bila dipimpin tokoh berpengalaman yang dapat ngemong dan dapat menjadi teladan, didampingi tokoh muda yang kreatif dan mampu merepresentasi kontribusi generasi penerus Wonogiri. Sebab, faktanya banyak kalangan muda yang kini tengah bergerak membangun Wonogiri berikut varian cara mereka yang genius dan butuh manajemen khusus.

Partisipasi Politik Kaum Muda

Saya berharap, generasi muda Wonogiri dapat berpartisipasi lebih baik pada Pilkada 2015. Dukungan mereka menentukan masa depan daerah dengan mobilitas perantauan yang tinggi ini. Bila kaum muda tidak tertarik pada Pilkada 2015, bukan tidak mungkin, Wonogiri semakin sulit mengeksplorasi potensi yang dimiliki.

Citra Wonogiri sebagai kalangan perantau telah sejajar dengan Minang, Lamongan, atau Madura. Pilkada 2015 bukan hanya melibatkan kalangan muda yang tinggal di Wonogiri. Hal signifikan yang tidak boleh diabaikan adalah peranan para perantau. Sebagian besar perantau adalah kalangan muda.