Penurunan Struktur Karena Usia, Candi Sukuh Mulai Dipugar

DIPUGAR - Pelaksana Lapangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Pemotretan candi induk menggunakan alat laser scanner tiga dimensi. (Foto: Pemkab Karanganyar)
DIPUGAR – Pelaksana Lapangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Pemotretan candi induk menggunakan alat laser scanner tiga dimensi. (Foto: Pemkab Karanganyar)

Karanganyar, SURAKARTA DAILY ** Terjadi penurunan struktur penyusun Candi Sukuh karena faktor usia dan terkikis air hujan. Penurunan ini terlihat pada dinding sisi selatan yang menggembung dan latar atap candi menurun di sisi yang sama.

“Dinding batu sisi selatan menonjol keluar. Air hujan dari atas melewati sela-sela batu, kemudian muncul rongga yang menyebabkan bagian atasnya amblas,” ujar Pelaksana Lapangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Suyadi, Senin (20/4/2015), di Karanganyar, seperti dirilis Pemkab Karanganyar.

Ia menjelaskan, tahap pertama pemugaran Candi Sukuh telah dimulai, yakni pemotretan candi induk menggunakan alat laser scanner tiga dimensi. Penggunaan teknologi itu sebagai data untuk mempermudah pengembalian candi pada posisi seperti semula.

“Pemugaran itu berlangsung selama 160 hari, dimulai Hari Senin (20/4/2015). Metode penomoran setiap batu juga diterapkan agar memudahkan pemasangan kembali. Tim juga melibatkan pakar geologi dan arsitek bangunan prasejarah dari perguruan tinggi,” terangnya.

Selama 160 hari itu, sambungnya, tim hanya menyelesaikan pemugaran total dan pengembalian empat lapisan dasar candi. Untuk penyusunan utuh candi yang terletak di Kecamatan Ngargoyoso itu membutuhkan waktu selama dua tahun.

“Semua batu-batu di candi induk akan diturunkan, kemudian diteliti penyebab elevasi, kenapa candi menurun. Ada rekomendasi pemakaian bahan-bahan untuk memperkuat saat menyusun kembali batu-batu seperti semula,” kata Suyadi.

Diusulkan ke UNESCO

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks-Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah.

Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi Sukuh dianggap kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena penggambaran alat-alat kelamin manusia secara eksplisit pada beberapa figurnya.

Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia sejak 1995.

Dilansir dari Wikipedia, situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java.

Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada 1928.