Desa Gedong Ngadirojo Wonogiri, Percontohan Masyarakat Tangguh Banjir

RESCUE - SAR Wonogiri tengah dalam sebuah operasi di Desa Gedong, Ngadirojo, Wonogiri. (Foto: SAR Wonogiri)
RESCUE – SAR Wonogiri tengah dalam sebuah operasi di Desa Gedong, Ngadirojo, Wonogiri. (Foto: SAR Wonogiri)

Tawangmangu, SURAKARTA DAILY ** Program Pembangunan Masyarakat Tangguh Banjir (Community Flood Resilience) dilaksanakan PMI Kabupaten Wonogiri untuk pertama kalinya di Desa Gedong, Ngadirojo, Wonogiri.

Dirilis, Humas Pemkab Wonogiri, program tersebut diinisiasi PMI Pusat bekerja sama dengan International Federation Of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) dan Zurich Insurance.

Pelaksanaan program diawali dengan pelatihan SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) yang dikuti 30 relawan di wilayah Hulu Sungai Bengawan Solo di Desa Gedong selama 5 hari, sejak Rabu (25/3/2015) hingga Minggu (29/3/2015) di Tawangmangu Karanganyar.

“Kegiatan Pembangunan Masyarakat Tangguh Banjir ini akan digelar selama 2 tahun dengan 6 bulan pertama difokuskan di Desa Gedong Ngadirojo Wonogiri. Selanjutnya, pada 6 bulan kemudian akan ditambah dua desa lagi yang berada di sekitar Hulu Sungai Bengawan Solo,” ujar Kepala Markas PMI, Warjo.

Menurutnya, setiap peserta pelatihan akan bertugas mengelola dan mengorganisasi 50 Kepala Keluarga yang rentan selama dua tahun ke depan.

Program ini, sambung Warjo, bertujuan untuk meningkatkan ketahanan dan ketangguhan masyarakat, meningkatkan efektivitas solusi pengurangan risiko bencana, serta adanya dukungan penuh dari pengambil kebijakan.

”Tolok ukur keberhasilan program ini adalah adanya kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana banjir serta adanya pendampingan lanjutan dari Pemerintah Daerah,” tutur Warjo.

Ukuran Keberhasilan Program

Dalam pelaksanaannya, PMI selalu melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri dengan harapan, ada upaya replikasi kegiatan agar bisa ditindaklanjuti Pemkab.

“Mungkin nanti, jika ketangguhan masyarakat di Desa Gedong Ngadiorjo benar-benar terbukti maka bisa dijadikan sebagai percontohan untuk menjadikan masyarakat yang tangguh terhadap bencana apa pun,” terang Warjo.

Ia menambahkan, hal kecil yang diharapkan dapat menjadi ukuran keberhasilan program adalah perubahan perilaku masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, membersihkan selokan, dan membiasakan diri menanam tanaman di sepanjang hulu sungai Bengawan Solo.

”Dengan begitu, kita juga membantu pemerintah dalam upaya mengurangi sedimentasi Waduk Gajah Mungkur,” pungkasnya.