Validitas Data Warga Miskin, Faktor Kunci Pengentasan Kemiskinan Kota Solo

PENTINGNYA DATA - Staf Harian Tim Koordinasi Pengentasan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kota Surakarta, Kun Prastowo. (Foto: Arif Giyanto)
PENTINGNYA DATA – Staf Harian Tim Koordinasi Pengentasan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kota Surakarta, Kun Prastowo. (Foto: Arif Giyanto)

Akurasi dan validitas data merupakan syarat mutlak tolok ukur tepat sasaran atau tidaknya program masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta dalam mempercepat penganggulangan kemiskinan.

Karut-marutnya permasalahan data akan menghambat, dan bisa jadi menimbulkan friksi di tengah masyarakat.

Dengan data integratif yang disusun dari partisipasi warga melalui uji publik hingga tingkat RT maka validitas data tentu akan lebih akurat. Data hasil validasi ini layak dijadikan data Warga Miskin (Gakin) Kota Surakarta.

Semestinya, Bappeda mulai menyiapkan data integratif yang dapat dijadikan dasar semua SKPD dalam intervensi program bagi penanggulangan kemiskinan Kota Surakarta.

TKPKD kini tengah merampungkan pendataan berbasis keluarga di 31 kelurahan, dari 51 kelurahan di Kota Surakarta. Sisanya, diharapkan menjadi tanggung jawab Bappeda. Metodologi yang dipakai dalam pendataan berbasis keluarga ini berdasar 23 indikator kemiskinan kota.

Ke depan diharapkan Kota Surakarta memiliki data warga miskin dengan akurasi yang bisa dipertanggungjawabkan, melalui mekanisme dan metodologi yang valid. Sehingga data integratif tersebut dapat dijadikan alat ukur dalam intervensi program pengentasan kemiskinan di Kota Surakarta.

Selain itu, sekaligus dimanfaatkan semua SKPD dalam penentuan jenis program yang tepat bagi warga miskin.

Program Pengentasan Kemiskinan

Berdasar SK Walikota No 47/29/1/2012 tentang Penetapan Jumlah Penduduk Miskin Kota Surakarta, jumlah Rumah Tangga Sasaran (KK Miskin) adalah 39.326 KK, dengan rincian, Laweyan (6.676), Serengan (3.688), Pasar Kliwon (7.779), Jebres (8.527), dan Banjarsari (12.656) atau dalam persentase, Laweyan (17 persen), Serengan (9 persen), Pasar Kliwon (20 persen), Jebres (22 persen), dan Banjarsari (32 persen).

Sementara berdasarkan jumlah jiwa ada 133.722 jiwa, dengan rincian, Laweyan (21.176), Serengan (11.844), Pasa Kliwon (26.189), Jebres (31,869), dan Banjarsari (42.644).

Beberapa program pengentasan kemiskinan yang menjadi andalan Kota Surakarta adalah Program Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS), Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS), Raskinda untuk 17.210 RTS @ 5 kg, serta program-program pemberdayaan melalui masing-masing SKPD.

Alat ukurnya ya hanya menurunkan angka kemiskinan dari 14 persen pada 2012 menjadi 11,74 persen pada 2014, dan target penurunan menjadi 7,1 persen pada tahun 2015.