Regenerasi Pembatik Kota Solo Mendesak Dilakukan

REGENERASI - Akademisi ISI Solo, Wawan Kardiyanto, mengatakan, regenerasi pembatik Solo mendesak dilakukan. (Foto: Arif Giyanto)
REGENERASI – Akademisi ISI Solo, Wawan Kardiyanto, mengatakan, regenerasi pembatik Solo mendesak dilakukan. (Foto: Arif Giyanto)

Proses regenerasi di kalangan pembatik Kota Solo mengalami hambatan, karena generasi muda enggan meneruskan kegiatan industri perbatikan. Padahal, mereka berasal dari keturunan pengusaha batik.

Mereka lebih suka memilih karier profesional di luar batik, seperti menjadi dokter, pengacara, dosen, artis, atau pengusaha di bidang lain.

Selain di kalangan generasi muda yang berasal dari jalur batik, keminiman regenerasi juga terjadi di jalur non-pengusaha batik, terutama bagi mereka yang mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Sejarah perkembangan batik yang awalnya berkembang dan berasal dari Kota Solo dan Jogja ini, ternyata di kota asalnya sendiri, kondisi industri batiknya tidak lagi mengalami perkembangan yang signifikan, khususnya di Kota Solo.

Kondisi perbatikan Kota Solo perlu dicermati dan dicarikan pemecahan masalahnya. Pemkot Surakarta dan stakeholder perbatikan perlu kembali menyisir potensi-potensi yang dapat mendukung terbangunnya kembali kesenian batik di Solo.

Bukan hanya potensi raga (ekstra estetika), tetapi juga potensi rasa (estetika). Gabungan antar-keduanya dapat dipastikan akan menggeliatkan kembali kesenian batik di Kota Solo.

Nilai-nilai filosofi, estetika, dan sejarah perbatikan dapat digali kembali guna menumbuhkan etos kerja para usahawan batik dan stakeholder-nya, baik dalam memproduksi maupun menciptakan kualitas seni motif batik yang tinggi.

Pemkot Surakarta sebaiknya perlu memfasilitasi sarana struktur dan infrastruktur, baik itu kemudahan modal, kemudahan usaha, kebebasan retribusi, kemudahan pajak hasil usaha, pencapaian target pasar, transportasi dan tentunya ketersediaan SDM.

Berbicara masalah SDM, di Solo ada beberapa Perguruan Tinggi yang telah siap mendukung penciptaan SDM perbatikan, seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Fakultas Seni Rupa, dan tentunya Universitas Islam Batik Surakarta (UNIBA) D1 Perbatikan.

Batik, Ikon Perlawanan

Sejarah kesenian batik atau perbatikan di Indonesia sangat berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Kesenian batik telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang ke kerajaan-kerajaan dan raja-raja berikutnya. Kesenian batik ini mulai meluas dan menjadi milik rakyat Indonesia. Khususnya bagi suku Jawa, kesenian batik berkembang luas setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan pada waktu itu semuanya adalah batik tulis hingga awal abad ke-20 ini. Batik cap dikenal baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik dapat dikaitkan dengan penyebaran ajaran Islam. Sebab, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri. Santri banyak dikenal sebagai para pengelola usaha perbatikan.

Bahkan batik kemudian dijadikan sebagai ikon dalam alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan gencarnya perdagangan orang-orang Belanda.