Antisipasi Kekeringan, Pemkab Boyolali Gelontorkan Rp105 Juta untuk Program Air Bersih

DEFISIT AIR - Mengantisipasi defisit air, Waduk Cengklik dapat dimanfaatkan lebih optimal. (Foto: Hendrahoky/Deviant Art)
DEFISIT AIR – Mengantisipasi defisit air, Waduk Cengklik dapat dimanfaatkan lebih optimal. (Foto: Hendrahoky/Deviant Art)

Boyolali, SURAKARTA DAILY ** Meminjam pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’, sepertinya begitulah Pemerintah Kabupaten Boyolali mengantisipasi kekeringan tahun ini.

Pemkab Boyolali menggelontorkan anggaran Rp105 juta untuk program bantuan air bersih di daerah rawan kekeringan. Anggaran tersebut sama dengan anggaran tahun sebelumnya.

“Tidak ditambahnya anggaran bantuan air bersih pada tahun 2015 ini karena berdasarkan serapan anggaran tahun 2014 lalu dengan besaran Rp105 juta bisa memenuhi permintaan air bersih di daerah rawan kekeringan di Kabupaten Boyolali,” ujar Kepala Bagian kesejahteraan Rakyat/Kesra, Setda Kabupaten Boyolali, Dadar Hawananto, seperti dirilis Pemkab Boyolali.

Menurutnya, penyerapan anggaran air bersih di Bagian Kesra pada 2014 dengan anggaran Rp105 juta mampu mensuplai bantuan air bersih kepada masyarakat di kawasan rawan kekeringan di seluruh wilayah Boyolali.

“Diperkirakan, penyerapan anggaran bantuan air bersih mulai dilakukan pada musim kemarau atau sekitar bulan Agustus 2015 mendatang. Untuk persiapan nanti, pada bulan Mei akan dilakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait dan pihak kecamatan, utamanya wilayah kecamatan yang rawan kekeringan di Kabupaten Boyolali,” jelas Dadar.

Ia menuturkan, terdapat tujuh wilayah rawan kekeringan di Kabupaten Boyolali, yakni Kecamatan Musuk, Wonosegoro, Kemusu, Juwangi, Klego, dan Selo. Di wilayah tersebut, saat datang musim kemarau, selalu kekurangan air bersih.

“Hal ini harus menjadi perhatian, karena boyolali yang kebanyakan wilayahnya adalah pertanian dan saat ini sangat sedang digencarkannya untuk swasembada pangan bisa berpotensi merusak lahan pertanian,” kata Dadar.

Kecamatan Sumuk paling rawan terjadi kekeringan. Kecamatan ini memiliki sebelas desa rawan kekeringan, yakni Desa Sangub, Jenowo, Sumur, Mrian, Cluntang, Dragan, Nglampar, Karangkendal, Karanganyar, Sruni, dan Ringin Larik.

“Desa-desa tersebut merupakan langganan kekeringan saat musim kemarau. Dengan adanya kebutuhan dari desa-desa yang ada di Boyolali ini dan progam prioritas pemerintahan jokowi, diharapkan masalah bencana kekeringan bisa segera diatasi,” pungkasnya.

Defisit Air

Belakangan, beberapa daerah di Indonesia sering mengalami kekeringan pada musim kemarau dan mendapatkan pasokan air melimpah pada saat musim penghujan, bahkan sampai terjadi kebanjiran, khususnya wilayah-wilayah di Indonesia yang selama ini kurang bagus dalam merawat dan menjaga lingkungannya.

Kemarau panjang menjadi ancaman serius terjadinya krisis air bersih. Dari pusat data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak 1995, saat musim kemarau, sejumlah wilayah di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami defisit air.

Defisit air biasanya terjadi dalam tujuh bulan pada musim kemarau, sedangkan surplus air berlangsung selama lima bulan saat musim penghujan.

Diprediksi, pada 2020, potensi air yang layak dikelola hanya sekitar 35 persen, yaitu 400m3/kapita/tahun. Angka ini jauh dari kebutuhan standar minimum dunia, yaitu 1.100m3/kapita/tahun.

Menunjang program swasembada pangan yang akan dikebut pada 2018, tahun ini, Pemerintahan Jokowi menganggarkan APBN untuk progam irigasi dan pembuatan waduk.