SUBOSUKOWONOSRATEN: Resolusi 2015 dalam Canting Peradaban Masyarakat Ekonomi ASEAN

Canting merupakan untuk membatik, dan menjadikan karya batik bernilai tinggi di seluruh penjuru tanah air dan dunia internasional (Foto: Ilustrasi)
Canting merupakan alat membatik, dan menjadikan karya batik bernilai seni dan ekonomi tinggi bagi pencinta dari penjuru tanah air dan dunia internasional (Foto: Ilustrasi)

Jalan panjang telah dilalui, pergantian waktu tiba sebagai babak baru perjalanan sejarah manusia. Rasanya, uforia menyambut tahun baru 2015, bukan sekadar pergantian waktu biasa yang lazimnya hanya terdengar riuhnya terompet dan gemerlap kembang api. Lebih dari itu, nada terompet dan kembang api adalah petanda lahirnya era global, yakni Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Berlakunya MEA pada akhir Desember tahun 2015 membawa konsekuensi logis, bahwa era keterbukaan batas teritorial antar Negara Asia Tenggra dan pasar tunggal negara di kawasan ASEAN menjadi keniscayaan yang harus dihadapi oleh masyarakat Indonesia.

Pembentukan pasar tunggal ini memungkinkan satu Negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke Negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara. Tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional dan pembentukan hibridisasi budaya.

Tentu kita tidak boleh berkecil hati, bahkan takut mengadapi era ini. Optimisme harus dibangun sembari terus melakukan usaha perbaikan dan peningkatan kualitas, baik di segi sumber daya manusia ataupun sumber daya lainnya sebagai potensi dan basis modal yang kita miliki dalam bersaing

Bagaimana potensi dan kesiapan Masyarakat Kawasan SUBOSUKOWONOSRATEN Menghadapi MEA 2015?

Memasuki MEA 2015, SUBOSUKUWONOSRATEN (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar dan Klaten) di mata penulis adalah salah satu kawasan di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang sangat potensial menghadapi persaingan ketat dengan seluruh masyarakat Negara ASEAN lainnya sebagaimana daerah-daerah maju di Indonesia lainnya. Bukan hanya daerah ini secara khusus memang memiliki kedekatan emosional dengan penulis. Lebih dari itu, kawasan SUBOSUKUWONOSRATEN adalah kawasan yang memiliki beragam potensi, mulai dari budaya, industri, pariwisata, pertanian, perkebunan, dan industri kerajinan seni tradisional serta industri kreatif lainnya sebagai modal dasar mengahadapi keterbukaan pasar.

Sebut saja Solo, dengan industri batik dan kerajinan seninya yang memiliki nilai jual tidak hanya untuk masayarakat lokal, tetapi sudah terkenal di seluruh penjuru tanah air bahkan dunia internasional. Selain Solo yang memiliki batik dan lebih dulu dikenal, Sukoharjo dan Sragen juga salah satu Kabupaten di daerah ini yang memiliki produk serupa.

Selain batik yang memang telah dikenal masyarakat luas, kita bisa lihat hasil industri kecil menengah dan kreatif lainnya yang tersimpan. Sukoharjo misalnya, memiliki industri rumah tangga berupa jamu yang juga menjadi ikon, industri garmen, furnitur, kaca grafir dan kerajinan gitar. Selain itu, hasil industri kerajinan yang tak kalah penting dan merupakan warisan budaya jawa semacam gamelan dan wayang kulit yang juga ada di Kabupaten Boyolali.

Usaha Kecil Menengah Basis Entitas Bisnis

Sebagai kesatuan pasar dan produksi, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Selain itu, MEA juga akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata dengan prioritas UKM.

Menimbang berlakunya MEA yang menuntut daya saing dari produk lokal masyarakat setempat, ada baiknya jika potensi-potensi di Kawasan SUBOSUKOWONOSRATEN dapat diintegrasikan menjadi basis ‘entitas bisnis’ bersama, sehingga nilai produk industri kreatif lokal memiliki daya saing yang unggul dan keunikan tersendiri. Cara ini juga sekaligus sebagai usaha menghimpun semangat kebersamaan dan gotong royong yang merupakan asas dan nilai luhur masyarakat jawa.

Mengahadapi MEA yang begitu terbuka batas ruang teritorial, dan masyarakat kita yang merupakan bagian dari komunitas ASEAN, dengan sendirinya menjadi bagian dari sistem ini. MEA memiliki pengaruh kuat dalam mempengaruhi pola pikir dan tindakan masyarakat global yang mesti ditanggapi secara positif.

Mempertahankan identitas budaya dalam menghadapi ekonomi dan budaya global bukanlah perkara yang mudah. Dialog antar budaya dalam masyarakat ASEAN merupakan sebuah keniscayan yang mewujud sebagai hibridisasi budaya. Yakni, sebuah fenomena global yang terjadi di berbagai kawasan negara karena adanya akulturasi budaya antar bangsa.

Hibridisasi adalah proses penciptaan atau replikasi bentuk-bentuk mutan melalui perkawinan silang yang menghasilkan entitas campuran yang tidak lagi utuh, meskipun di dalamnya masih tersisa sebagian identitas diri dari dua unsur yang dikawinsilangkan. Hibridisasi adalah proses parasitisme di dalam sebuah sistem yang di dalamnya sebuah entitas dijadikan tempat hidup oleh entitas-entitas lain, yang dapat menghancurkan identitas dan keberbedaan keduanya, meskipun ia dapat membangun identitas dan perbedaan- perbedaan baru. (Piliang, 2008: 368).

Membiarkan efek ini secara alamiah pun bukan sebuah pilihan, jika kita tidak ingin pasif menjadi bulan-bulanan homogenisasi dan kehilangan budaya lokal.

Entitas Bisnis dan Identitas Budaya

Menurut Hariyanto dalam Hibiridasi Budaya: Strategi Kreatif Menghadapi Masyarakat Ekono ASEAN 2015, Industri kreatif memiliki posisi strategis dalam menghadapi MEA 2015. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara menjadi  pasar yang potensial bagi pemasaran produk kreatif global. Masyarakat Indonesia secara umum dan secara khusus SUBOSUKOWONOSRATEN juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi pelaku industri kreatif.

Kaum intelektual (akademisi) bersama dengan para pengusaha dan pemerintah yang merupakan Triple Helix, secara bersama-sama  perlu membangun fondasi industri kreatif daerah dan nasional yang kuat. Jika kebersamaan ketiga unsur itu tidak segera dilakukan maka kita hanya akan menjadi objek dari industri kreatif global

Jika MEA adalah hasil dari integrasi pasar dan produksi dari Negara ASEAN, tentu kawasan SUBOSUKOWONOSRATEN juga bisa melakukan hal yang sama, yakni mengintergrasikan pasar dari seluruh hasil produksi industri kecil menengah masyarakat kita dalam menghadapi MEA. Misalnya, pasar Klewer dan Pasar Grosir Solo yang sudah eksis, dijadikan sebagai pusat pemasaran yang produksinya tidak hanya di Surakarta tetapi hasil dari beragam industri kecil menengah ataupun kerajinan tangan kawasan SUBOSUKOWONOSRATEN. Dan jika memungkinan, bisa secara bersama-sama membangun sentra pemasaran industri kecil menengah dan industri kreatif berbasis lokal wisdom.

Untuk mewujudkan ke arah sana tentu harus ada kesamaan visi seluruh steakholder dan pihak terkait termasuk pelaku usaha dan intelektual/akademisi untuk membangun strategi bersama, baik dari mobilisasi produksi hingga membangun branding entitas bisnis SUBOSUKOWONOSRATEN yang unggul dan berdaya saing.

Selain beragam corak hasil industri kecil menengah yang memang bisa dijadikan produk unggulan, kita juga masih memiliki hasil pertanian, perkebunan, ekowisata dan pariwisata yang tersebar di kawasan ini, sebutlah wisata alam Karanganya, Boyolali dan Sragen, serta wisata budaya dan sejarah di Solo, Klaten dan Sukoharjo adalah pemandangan yang lazim di kawasan ini. Tentu semua ini menjadi daya dukung.yang signifikan dalam promosi dan pemasaran hasil produk dalam industri dalam negeri.

Tentu akan menjadi lebih unik dan menarik, jika hasil produksi yang basisnya dari industri kreatif dan kecil menengah ini dilekatkan dengan sektor wisata dan budaya yang ada sebagai strategi pemasaran produk lokal dalam mengahadapi MEA. Kolaborasi keselarasan entitas bisnis dan identitas budaya harapannya akan menjadi cara menjaga budaya lokal dan daya tawar baru yang terwujud dalam bentuk wisata shopping industri budaya. Semoga!

Sudah saatnya uforia tahun baru menjadi resolusi 2015 menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN dan mewujudkan ketahanan industri industri kecil menengah sebagai basis industri kreatif nasional.

Selamat Tahun Baru 2015, Cintailah Produk-produk dalam Negeri.