Srawung Seni Candi, Persembahan Candi Sukuh untuk Dunia

SEMARAK - Untuk meremajakan kembali sosok candi di mata masyarakat, diselenggarakan ‘Srawung Seni Candi’ di kompleks Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. (Foto: Diskominfo Karanganyar)
SEMARAK – Untuk meremajakan kembali sosok candi di mata masyarakat, diselenggarakan ‘Srawung Seni Candi’ di kompleks Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. (Foto: Diskominfo Karanganyar)

Karanganyar, SURAKARTA DAILY ** Anda pasti mengenal candi. Candi merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sangat penting dan berharga di Indonesia, bahkan dunia. Namun kurangnya sosialisasi dan pengelolaan yang belum optimal menyebabkan Candi terlihat kurang populer di masyarakat, khususnya generasi muda.

Untuk meremajakan kembali sosok Candi di mata masyarakat, diselenggarakan sebuah acara bertajuk ‘Srawung Seni Candi’ di kompleks Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Acara tersebut diikuti 18 kelompok seniman dari dalam maupun luar negeri, di antaranya Sabdopalon Nayagenggong dari Ngargoyoso, Burkard Korner dari Jerman, maupun Wirastuti dan Luluk Ari dari Solo.

Srawung Seni Candi yang telah berlangsung ke-11 kali ini diselenggarakan pada 31 Desember 2014 dan 1 Januari 2015. Animo masyarakat sangat positif, dilihat dari ramainya pengunjung yang menyaksikan pementasan Srawung Seni Candi.

“Kita menampilkan berbagai seni dari kebudayaan Indonesia. Selain itu, juga sebagai wujud refleksi untuk kebudayaan Indonesia dan alam, sehingga kita dituntut untuk tetap waspada,” ujar penggagas acara Srawung Seni Candi, Soeprapto Suryodarmo, seperti dirilis Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Selain pementasan Srawung Seni Candi, diselenggarakan rangkaian acara sarasehan, malam tirakatan, dan pemberian bibit pohon kepada masyarakat.

Partisipasi Seniman Mancanegara

Tidak hanya seniman lokal, puluhan seniman mancanegara turut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh.

Suprapto menegaskan, acara menjadi tempat bertemunya seniman, baik lokal, mancanegara, klasik, atau pun modern. Melalui gelaran diharapkan pembatas yang ada di dunia kesenian selama ini coba diruntuhkan.

“Banyak seniman-seniman profesional dari luar negeri hadir di sini karena ingin mempelajari lebih jauh kebudayaan alam dan Tuhan. Sebab, selama ini banyak seniman yang terjebak dalam rutinitas dunia pentas yang cukup berjarak,” terang Mbah Prapto.

Sementara itu, Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti sangat mengapresiasi gelaran Srawung Seni Sukuh. Pihaknya berharap, dengan adanya seni rakyat mampu menjadi sumber inspirasi bagi bangsa ke depannya.

“Negara harus berkaca pada rakyatnya. Wajah negara ditentukan oleh wajah masyarakatnya. Seperti wajah-wajah kesenian yang ditampilkan dalam Srawung Seni Candi kali ini begitu beragam dan menyejukkan,” terangnya.

Dia pun mengapresiasi keberadaan Candi Sukuh sebagai lokasi Srawung Seni Sukuh. Menurutnya, bangunan Candi Sukuh menyimpan banyak nilai luhur yang perlu digali, di antara sekitar 60 ribu candi yang kini tercatat Kemendikbud.

“Kalau satu candi saja bisa memberikan inspirasi, kalau terus digali maka betapa negara kita ke depan bisa menjadi luar biasa maju kebudayaannya,” jelasnya.

Dengan begitu, Wiendu menilai gelaran Srawung Seni Sukuh bukanlah semata pertunjukan seni dan ajang silaturahmi antar-seniman semata. Lebih jauh, ia melihat Srawung Seni Sukuh sebagai wujud interaksi secara nurani.

“Jadi semakin sering hadir dalam Srawung Seni Sukuh seperti ini, ketahanan kebudayaan kita semakin maju dan kuat ke depannya. Tradisi seperti ini harus tetap hidup dan lestari,” tutur Wiendu.

Benteng Pertahanan

Komentar senada disampaikan Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji. Dari prespektif ketahanan sipil, keberadaan candi menjadi penanda akan kokohnya benteng pertahanan nenek moyang dahulu. Keberadaan Candi Sukuh membuktikan bahwa teknologi nenek moyang dahulu sedemikian hebat dan tidak sebodoh seperti anggapan dunia Barat.

“Saya kira tidak mudah bagi ahli teknik sipil untuk membangun (candi) secantik ini yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan indahnya. Jadi bagi tamu mancangera, kalau mau belajar Indonesia jangan lihat Jakarta dan Bali saja, tetapi juga pelajari candi-candi yang ada di negara ini,” katanya.

Gelaran Srawung Seni Candi Sukuh melibatkan berbagai kelompok seni, seperti seni Carabalen dari Karanganyar, Reog Gembong Kertojoyo dari Sukoharjo, kelompok Merapi Timur dari Klaten, kelompok Rumah Tari Sangishu dari Lampung, Studio Taksu dari Solo.

Selain itu, seniman Sri Van Der Kroef dari Amerika, Yui Nakagami dari Jepang, Anna Rubio Liambi dari Spanyol, Bettina Mainz dari Jerman, Mario Villa dan Gabriella Medina dari Meksiko, Agnes Christina dari Singapura, AA Gede Agung Rahma Putra dari Bali dan lain sebagainya.

Diskusi bersama budayawan Seno Gumira Ajidarma dan Rahayu Supanggah juga menjadi bagian menarik acara ini.