Candi Prambanan, Wisata Haritage dan Edukasi Peradaban Jawa

Full Moon at Prambanan Temple (Foto: artfineamerica.com / Yasril Friandi)
Full Moon at Prambanan Temple (Foto: artfineamerica.com / Yasril Friandi)

Klaten, SURAKARTA DAILY** Terletak di tepi Jalan Raya 17 Km dari Yogyakarta menuju Solo, Candi Prambanan menjadi objek wisata andalan Klaten sekaligus penghubung jalur kota Solo dan Yogyakarta.

Berada tepat di Desa Prambanan, wilayahnya menarik, karena secara administrasi terbagai menjadi dua bagian, yakni antara Kabupaten Klaten Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain sebagai penyambung jalur ke dua kota tersebut, candi prambanan memiliki akses yang mudah dikunjungi dari manapun dengan biaya yang relatif terjangkau. Jika wisatawan datang dari arah Yogyakarta, wisatawan hanya cukup mengeluarkan ongkos transportasi sebesar Rp4.000 atau Rp3.000 untuk ongkos transjogja.

Jika pun wisatawan menempuh perjalanan dari kota Solo, wisatawan cukup mengelurakan ongkos sebesar Rp.6000. Apalagi jika wisatawan memulai perjalanan dari Klaten, pilihan transportasinya lebih bervariasi, wisatawan dapat menggunakan bus umum jalur Yogyakarta-Solo ataupun bus jurusan Terminal klaten Prambanan.

Bukan hanya soal kemudahan transportasi yang dapat diakses wisatawan, biaya tiket masuk candi ini pun sebelas dua belas dengan ongkos transportasinya. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp8.000 bagi wisatawan domestik dan US$10 bagi wisatawan asing, wisatawan dapat menikmati eksotisnya Candi Prambanan yang buka setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 WIB.

Selain itu, bagi wisatawan yang hendak bermalam, di sekitar daerah candi juga tersaji akomodasi dan fasilitas yang cukup lengkap, mulai dari rumah penginapan, hotel, rumah makan/restoran, toko cindera mata dan fasilitas penunjang lainnya.

Cagar Budaya Dunia

Menempati kawasan seluas 39,8 hektare, Candi Prambanan merupakan komplek Candi Hindu terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Candi yang dibangun sekitar tahun 850 masehi, Prambanan memiliki tinggi 47 meter atau lebih tinggi 5 meter dari Candi Borobudur bahkan terlihat lebih kokoh dan perkasa.

Candi Prambanan yang juga dikenal dengan Candi Rorojograng adalah salah satu cagar budaya dunia (World Wonder Heritage) sejak ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991.

Keistimewaan lain yang dapat wisatawan dari Candi yang merupakan pengewajawantahan ajaran agama Hindu di tanah Jawa adalah keindahan relief-reliefnya yang menempel di dinding candi. Relief Ramayana menjadi relief utama, di samping relief pohon kalpatu yang tidak kalah indah.

Sekadar pengetahuan tambahan, pohon kalpatu dalam ajaran agama Hindu dianggap sebagai perlambang kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di sini pohon kalpatu digambarkan sedang mengapit hewan singa, yang dimaknai sebagai simbol betapa masyarakat jawa pada abad ke-9 memiliki kearifan dalam menjaga lingkungan.

Bagi wisatawan yang masih memiliki keingintahuan lebih dalam jejak yang terekam dalam relief, wisatawan dapat menambah lagi atau menuntaskannya dengan menyambangi museum yang terlerak di komplek Candi Prambanan. Di museum ini, pengunjung dapat menikmati audio visual ragam sejarah penemuan Candi Prambanan hingga proses renovasinya.

Bagimana, menarik bukan? Apalagi berlibur ke Candi Prambanan bukan hanya sekadar melepas penat dari kesibukan sehari-hari saja. Wisata ke Candi Prambanan juga menjadi media edukasi sejarah peradaban Jawa semua golongan, baik wisatawan dewasa, remaja atau pun anak-anak. Apalagi bagi wisatawan rombongan keluarga, di komplek Candi juga tersedia taman bermain khusus anak-anak, dan kereta mini yang dapat menghantar wisatawan berkeliling di sekitar kawasan komplek Candi.

Rasanya belum lengkap, jika hanya sebatas melihat bangunannya. Pasalnya, di Candi Prambanan ada event yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja, yakni pementasan Sendratari Ramayana. Sebuah pementesan treatikal kesenian Jawa yang mengolaborasikan seni tari, musik, drama dalam satu panggung kisah epos Ramayana karya Walmiki, yang ditulis dalam bahasa sanksekerta.

Pertunjukan Ramayana yang gelar, sebagai penerjemahan dari relief yang terpahat pada dinding Candi. Jalan cerita panjang tentang Ramayana yang menguras emosi dan syarat makna ini, dalam pementasannya dirangkum tanpa mengurangi daya tarik dan maknanya.

Pementasan yang berdasarkan informasi Jogjatrip sudah berjalan sejak tahun 1960-an dan dilaksanakan setiap bulan pada malam purnawa akan menyajikan empat babak/lakon paling emosional, yakni penculikan Shinta, Misi Anoman ke Alengka, Kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali dua sejoli Rama-Shinta.

Selain Candi Prambanan yang sudah familiar dan menjadi primadona wisatawan domestik maupun asing, Wisatawan juga dapat mengnjungi Candi lain di sekitar lokasi Prambanan. Dilansir dari laman humas Pemprov Jawa Tengah, berikut kami informasikan,

Candi Sewu

Candi Sewu
Candi Sewu

Masih di kawasan Candi Prambanan, kurang lebih jaraknya satu kilometer bagian utara, wisatawan juga dapat melihat komplek bangunan suci Candi Sewu. Agak berbeda dengan Prambanan, Candi Sewu merupakan peninggalan kebudayaan Budha kedua terbesar setelah Borobudur.

Berdasarkan prasasti dan data arsitekturnya, Candi Sewu dibangun sekitar tahun 782 hingga 792 masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Rakai Panakaran dan Rakai Panaraban (seorang raja besar Mataram Kuno).

Merajuk pada prasasti berangka tahun 714 hingga 792 M yang ditemukan pada tahun 1960 di sini, nama asli Candi Sewu adalah Manjus’rigrha atau rumah Manjusri, yaitu salah satu Bodhisatwa dalam agama Budha.

Candi Plaosan

Candi Plaosan
Candi Plaosan

Candi ini terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Candi ini terletak kurang lebih satu kilometer ke arah timur laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan.

Komplek ini dibangun pada abad ke-9 yaitu zaman Kerajaan Medang atau dikenal dengan Kerajaan Mataram Kuno. Candi Plaosan terdiri dari Candi Plaosan Lor dan Kidul.

Kelompok Candi Plaosan Lor terdiri dari dua buah candi induk yang di kelilingi oleh 116 buah Stupa Perwara dan 50 buah Candi Perwara. Candi induk Plaosan Lor di pugar pada tahun 1962 oleh Dinas Purbakala. Di dalam kamar candi induk terdapat beberapa buah arca Dhyani Budisatwa antara lain, Awalokiteswara, Wajrapani, Padmapani.

Berdasarkan Prasasti pendek yang dipahatkan pada perwara, kemungkinan candi Plaosan dibangun atas kerja sama antara Raja Pikatan dan Cri Kahulunan. Perpaduan antara Budha dan Hindu bertitik tolak dari hal tersebut di atas maka diperkirakan Candi Plaosan di bangun pada abad ke IX AD .

Berbeda dari Candi Plaosan Lor, Candi Plaosan Kidul belum diketahui memiliki candi induk. Pada kompleks ini terdapat beberapa perwara berbentuk candi dan stupa. Sebagian di antara candi perwara telah dipugar.