Sumaryoto: Karakter Perantau Wonogiri Warnai Indonesia

MENGABDI - Tokoh Wonogiri, Sumaryoto, menyatakan ingin mengabdi di daerah tempat tinggalnya. (Foto: Sughie WordPress)
MENGABDI – Tokoh Wonogiri, Sumaryoto, menyatakan ingin mengabdi di daerah tempat tinggalnya. (Foto: Sughie WordPress)

Wonogiri, SURAKARTA DAILY ** Susah dipungkiri, para perantau asal Wonogiri tersebar di seluruh Nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua. Kalau tak berjualan jamu, mereka menjajakan bakso dan mie ayam yang sangat terkenal tersebut.

“Wajar bila para perantau Wonogiri dengan karakter kerja kerasnya mampu mewarnai Indonesia. Boleh dibilang, Wonogiri termasuk salah satu daerah perantau yang paling eksis, selain Padang, Madura, atau Lamongan,” ujar tokoh Wonogiri, Sumaryoto, Jumat (12/12/2014), kepada Surakarta Daily.

Ia menjelaskan, karakter tersebut dapat berimplikasi positif atau negatif. Implikasi positifnya, warga Wonogiri perantau dapat menjadi duta daerah untuk mempromosikan Wonogiri sebagai daerah yang layak diperkenalkan dan dikunjungi investor atau wisatawan.

Sementara implikasi negatifnya, banyak putra terbaik Wonogiri yang kemudian memilih hijrah dari tempatnya untuk pengharapan hidup yang lebih baik. Kelangkaan SDM terbaik tentu saja mengurangi daya eksis Kota Gaplek tersebut.

“Sebagian anak-anak kita hidup berkekurangan karena daerahnya miskin dan kering. Sebagian lagi karena tidak ada lapangan pekerjaan memadai. Karena relasi generasi sebelum mereka yang telah lebih dulu berjalan, mereka kemudian berkarier ke luar Wonogiri,” kata pengusaha otobis ternama tersebut.

Untuk itu, sambungnya, me-maintain jaringan perantau Wonogiri menjadi agenda penting Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Bukan hanya dengan mendatanya, menurut Sumaryoto, pelatihan branding daerah diperlukan untuk membuka peluang investasi berskala lebih besar. Harapannya, Wonogiri kemudian kebanjiran investasi lantaran garansi personal yang telah dikenal luas.

“Berkunjunglah ke pelosok Indonesia Timur. Bisa jadi Anda akan berjumpa dengan perantau Wonogiri dengan jualan andalan, bakso dan mie ayam. Sebuah tradisi turun-temurun yang sangat potensial untuk merekatkan Indonesia,” tegas Sumaryoto.

Ia ingin menuntaskan pengabdian dengan membangun jiwa dan raga, serta menjadikan masyarakat Wonogiri merdeka dari kemiskinan dan kebodohan.

“Ini pengabdian terakhir saya pada daerah kelahiran saya. Saya sangat mencintai Wonogiri,” pungkas Sumaryoto.

Perantau dan Promosi Wonogiri

Sementara itu, praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, menilai bahwa perantau Wonogiri adalah Jawa Plus. Selain mewakili kultur Keraton Surakarta Hadiningrat yang sangat njawani, perantau Wonogiri tertempa kultur kerja keras dalam perantauan.

Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)
Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)

“Perantau Wonogiri itu daya tahannya luar biasa. Mereka berhasil di berbagai tempat, tapi tidak menghilangkan identitas ke-Jawa-annya. Sebuah potensi besar untuk memproduksi branding daerah berdasarkan jatidiri Wonogiri,” ucap konsultan kelahiran Tirtomoyo tersebut.

Albi menilai, kampanye promosi Wonogiri tidak cukup dilakukan Pemda secara formal, tapi juga perlu inisiasi kreatif stakeholder daerah lain.

“Misalnya pelatihan promosi daerah dapat diselenggarakan Pemda tapi dengan melibatkan generasi muda dan swasta,” papar Albi.