RAHAYU SARASWATI: Perjuangkan Harkat Martabat Masyarakat Wonogiri

Rahayu Saraswati bekerja bersama bersama masyarakat
Rahayu Saraswati bekerja bersama bersama masyarakat

Wonogiri, Surakartadaily** Penolakan terhadap raperda yang diajukan pemerintah bukan berarti menolak terhadap terbukanya lapangan kerja. Melainkan upaya untuk menaikkan harkat martabat masyarakat wonogiri.

Raperda hiburan malam yang saat ini sedang diajukan pemerintah ternyata memang mengandung banyak klausul yang dampaknya akan berpengaruh pada masyarakat secara umum. “Masuknya Panti Pijat, Karaoke, Kelab malam, diskotik dan Pub dalam agenda pariwisata bisa menjadi bumerang bagi masyarakat Wonogiri.” ungkap Rahayu Saraswati yang juga merupakan representasi masyarakat wonogiri, Karanganyar, Sragen. Dengan dilegalisasinya masuknya tempat hiburan malam tersebut akan sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan, karena tempat-tempat hiburan tersebut akan menjamur bahkan sulit dikendalikan.

Di beberapa tempat yang berada di kawasan Surakarta keberadaan tempat hiburan malam ini sudah menjadi rahasia umum akan selalu berkaitan dengan dunia prostitusi. Jika tidak mendapatkan perhatian yang serius ini akan menjadi preseden buruk bagi kondisi lingkungan serta harkat dan martabat bagi masyarakat wonogiri.

Martabat perempuan
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ia tidak berkeberatan terhadap perempuan bekerja. Namun ia mengingatkan, bahwa tidak bisa menutup mata, hingga kini tetap masih ada kalangan yg menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua.

Untuk itulah harus ditemukan solusi yang lebih baik, bukan kemudian mencari jalan pintas untuk membuka lapangan kerja yang akan sangat memungkinkan berujung pada eksploitasi wanita. Untuk itu harus ada prinsip, bahwa perempuan dapat bekerja tanpa harus mengorbankan martabatnya.

Standarisasi pendidikan
Sampai saat ini standar pendidikan belum bisa memastikan peluang hidup yang lebih baik. Karena pemerintah kurang dalam menggali potensi sdm memberikan peluang yang lebih relevan sumber daya alam dan selama lapangan pekerjaan lain belum sepenuhnya dikembangkan. “Maka kami menilai bahwa pemerintah belum menggali semua potensi sumber daya alam serta sumber daya manusia dalam kemampuannya untuk memastikan keamanan, kenyamanan dan kedaulatan rakyat di Wonogiri.” ujar ketua TIDAR (Tunas Indonesia Raya) Mercy Novita.

Mercy Novita
Aktifis perempuan yang juga ketua TIDAR (Bakti Indonesia Raya)

Lebih lanjut ia mengatakan Pemda Wonogiri perlu membuka kesempatan lebih luas bagi kaum perempuan usia produktif untuk mengisi lapangan-lapangan kerja formal, termasuk sektor bisnis pariwisata yang kental dengan kekhasan kultural dan kearifan lokal, sekaligus memperkuat keterampilan sumber daya manusia setempat terlebih perempuan, melalui pendidikan formal maupun dengan pelatihan-pelatihan kekaryaan. Lebih lanjut ia mengatakan “Perempuan adalah tiang negeri Perempuan akan menjadi sendi bagi kejayaan Wonogiri.”