Tangani Kekeringan Wonogiri Selatan, UNS Gandeng Ilmuwan Jerman

SOLUSI KEKERINGAN - Ilmuwan Karisruhe University of Germany, Prof Nestman, memberi paparan di depan Bupati Wonogiri dan jajarannya. Nestman datang bersama Tim UNS untuk mencari solusi kekeringan di Wonogiri. (Foto: Humas Pemkab Wonogiri)
SOLUSI KEKERINGAN – Ilmuwan Karisruhe University of Germany, Prof Nestman, memberi paparan di depan Bupati Wonogiri dan jajarannya. Nestman datang bersama Tim UNS untuk mencari solusi kekeringan di Wonogiri. (Foto: Humas Pemkab Wonogiri)

Wonogiri, SURAKARTA DAILY ** Berdasarkan data Dinas Pengairan, Energi dan Sumberdaya Mineral (PESDM) Kabupaten Wonogiri, Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah melakukan inventarisasi sumberdaya air tanah pada 2009, bekerja sama dengan Badan Geologi Bandung.

Meski demikian, banyak ditemukan kendala, di antaranya morfologi yang berbukit-bukit, belum terpetakannya jaringan sungai bawah tanah, serta keterbatasan sumberdaya manusia dan dana.

Ketersediaan air di Kabupaten Wonogiri, khususnya di wilayah selatan sangat minim, sehingga pemberdayaan sumberdaya air bawah tanah sangat dibutuhkan.

“Setiap tahun Wonogiri mengalami kekeringan seperti di Kecamatan Paranggupito, Giriwoyo, Pracimantoro, Baturetno, dan lainnya. Maka dari itu, perlu pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air bawah tanah yang tujuannya untuk pelayanan air kepada masyarakat,” terang Bupati Wonogiri, Danar Rahmanto, saat menyambut rombongan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta.

LPPM UNS datang bersama ilmuwan dari Karisruhe University of Germany. Mereka melakukan audiensi dengan Pemkab Wonogiri terkait pemberdayaan sumberdaya air bawah tanah di Kabupaten Wonogiri, yang diterima langsung Bupati, Sekretaris Daerah, dan pimpinan SKPD terkait, di Ruang Kerja Bupati Wonogiri, Rabu (12/11/2014).

Kedatangan Profesor Jerman tersebut, menurut Bupati, merupakan jembatan emas bagi Pemerintah Kabupaten Wonogiri untuk menyelesaikan persoalan kekeringan di Wilayah Wonogiri Selatan, yang hingga saat ini belum ditemukan solusinya.

Kendala ini diharapkan dapat dipecahkan, dengan adanya kunjungan tim UNS pimpinan Direktur Pascasarjana UNS, Prof Ahmad Yunus.

Menurut Yunus, kehadiran mereka memang bertujuan mengetahui potensi air bawah tanah di kawasan karst Wonogiri, dengan menghadirkan ilmuwan Karisruhe University of Germany, Prof Nestman.

Dalam paparan yang disampaikan dengan Bahasa Inggris, Nestman mengatakan, kehadirannya ingin membantu Pemkab Wonogiri mengatasi persoalan kekurangan air, serta menjadikan masyarakat memiliki kehidupan yang bersih dan sehat.

Nestman juga memaparkan bahwa proyek pengangkatan air bawah tanah sebelumnya telah berhasil dilakukan di Gua Bribin Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DIY.

Mencermati paparan tersebut, Bupati Wonogiri dengan tegas menyatakan dukungan penuh rencana tim tersebut untuk melakukan penelitian potensi air bawah tanah di Kabupaten Wonogiri, sekaligus memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di kawasan karst.

“Kami follow up, Pak. Ini yang kami nanti-nantikan,” tandas Bupati, seperti dirilis Humas Pemkab Wonogiri.

Pengelolaan Air Laut Menjadi Air Tawar

Sebelumnya, Bupati Wonogiri juga memberi dukungan kepada anggora DPR RI, Endang Maria Astuti, untuk memperjuangkan pembiayaan pengelolaan air laut menjadi air tawar di kawasan Wonogiri selatan. Hal tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi efektif mengatasi kelangkaan air bersih di empat kecamatan wilayah selatan yang terjadi secara permanen saat musim kemarau.

“Problem kekurangan air bersih seperti lekat dengan Wonogiri, terutama Wonogiri Selatan. Padahal, seperti diketahui, hanya Wonogirilah yang memiliki pantai di eks-Karesidenan Surakarta,” ujar praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, Senin (3/10/2014).

Albi menjelaskan, selaras dengan visi Poros Maritim Dunia Pemerintahan Joko Widodo-JK, solusi air bersih untuk Wonogiri selatan akan menjadi inisiasi kesejahteraan masyarakat pantai. Selama ini, karena orientasi pembangunan yang melulu berpusat pada paradigma darat, membuat masyarakat pesisir Wonogiri terkesan diabaikan.

“Sejumlah 70 persen luas Indonesia adalah perairan. Mengolah potensi kelautan untuk apa pun kebutuhan warga negara adalah keniscayaan. Bangsa Pelaut tentu saja dapat bersahabat dengan laut, termasuk memanfaatkan air laut untuk mengatasi kekurangan air bersih di Wonogiri,” tutur sosok kelahiran Tirtomoyo tersebut.

Secara promosi, sambungnya, Wonogiri akan lebih mudah menarik investor dan wisatawan bila masalah kekurangan air bersih ini dapat teratasi.

“Ironi maritim akan kita kikis perlahan. Bagaimana mungkin negeri yang kaya raya lautnya, justru tak bisa lepas dari masalah kekurangan air bersih? Sebagai satu-satunya daerah berpantai di eks-Karesidenan Surakarta, Wonogiri telah semestinya menuai berkah maritim,” papar Albi.

Event planner ini menyarankan untuk tak ragu belajar dari mana pun, agar masalah kekurangan air bersih dapat dientaskan. Misalnya belajar dari penelitian siswi SMA Negeri 3 Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dengan biaya tidak lebih dari Rp200 ribu, mereka berhasil menciptakan teknologi tepat guna mengubah air laut menjadi air tawar yang layak dikonsumsi.

“Teknologi ini tentu saja lebih murah dibandingkan dengan Reverse Osmosis (RO) yang harus melalui tahap penyulingan,” pungkasnya.