Dibutuhkan Kejelasan Regulasi Kelola Potensi Tambang Wonogiri

Praktisi promosi daerah. Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)
Praktisi promosi daerah. Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)

Selain merupakan satu-satunya pemerintah daerah tingkat II di eks-Karesidenan Surakarta yang memiliki pantai, Wonogiri sejak lama menyimpan potensi tambang yang luar biasa. Meski demikian, eksplorasi potensi tersebut belum dapat dikelola dengan baik, karena berbagai macam sebab.

Isu maupun berita tentang adanya sumber mineral dan tambang di Wonogiri, mungkin sudah menjadi berita lama. Sejak tahun 1970-an Pemerintah Jepang sudah pernah melakukan eksplorasi di Wonogiri. Ada beberapa bukti titik lubang bekas tambang di daerah Tirtomoyo.

Sampai sekarang, belum ada aturan daerah yang secara jelas mengatur eksplorasi potensi tambang di Wonogiri.

Saat ini, banyak warga yang melakukan pengelolaan dan meregulasi hasil tambang secara konvensional, atau biasa disebut tambang rakyat. Pemerintah terkesan sengaja dan membiarkannya, tanpa panduaan, aturan, maupun manajemen yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Ada kesan, potensi tambang dikuasai oleh pihak-pihak tertentu.

Kondisi ini tentu dapat menghambat iklim investasi. Eksplorasi potensi daerah Wonogiri, khususnya pertambangan, yang sedianya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan daerah menjadi sulit diolah karena belum adanya kontrol memadai dari pemerintah.

Kalau aturan dan sistem tidak jelas dan tegas, bagaimana investor mau datang? Apalagi belum ada infrastruktur penunjang.

Dari aspek promosi daerah, sambungnya, ketika hal tersebut dibiarkan akan merugikan citra birokrasi dan image Wonogiri.

Saya sangat yakin, jika potensi tambang yang ada di beberapa wilayah Wonogiri ini, mulai dari hulu hingga hilir, mulai diperhatikan secara serius dan mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah daerah, bukan mimpi, Wonogiri akan menjadi Freeportnya Jawa Tengah.

Potensi Tambang Wonogiri

Studi lapangan matrikulasi Program Studi S2 dan S3 Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNS di Penambangan Emas Rakyat Desa Jendi Selogiri, 25 September 2010. (Foto: UNS)
Studi lapangan matrikulasi Program Studi S2 dan S3 Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNS di Penambangan Emas Rakyat Desa Jendi Selogiri, 25 September 2010. (Foto: UNS)

Kabupaten Wonogiri memang banyak memiliki potensi pertambangan, terutama bahan galian non-logam (golongan C), yaitu batu gamping, kalsit, batuan andesit, tras, pasir kuarsa, pasir batu, batu bentonit, lempung atau tanah liat, damar, kaolin, fosfat, oker, dan batu setengah permata.

Bahan galian batu gamping banyak terdapat di wilayah Kabupaten Wonogiri bagian selatan dan barat. Sumberdayanya diperkirakan sekitar 3.599 juta m3 dengan luas sebaran mencapai 4.130 ha.

Potensi batu gamping yang begitu besar tersebut belum dimanfaatkan maksimal. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Wonogiri terus membuka peluang kepada para investor besar untuk mendirikan industri semen di Wonogiri. Potensi bahan baku untuk industri semen diperkirakan mencapai 100 tahun.

Batuan andesit terdapat di sebelah barat dan timur wilayah Kabupaten Wonogiri, terutama di Desa Keloran, Kepatihan, dan Pare Kecamatan Selogiri yang jumlah cadangannya mencapai sekitar 205.865.625 m3. Sedangkan sumberdaya di Kecamatan Ngadirojo, Jatiroto, Manyaran, dan Giriwoyo mencapai 1.379.300.000 m3.

Bahan galian kalsit banyak terdapat di Kecamatan Eromoko, Giriwoyo, Pracimantoro, dan Giritontro. Kalsit biasa digunakan untuk bahan pemutih, industri kaca, pakan ternak, dan bahan dasar cat.

Tanah liat atau lempung yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata, genteng, dan gerabah, diperkirakan memiliki luas sebaran 18.392 ha. Usaha industri batu bata, genteng, dan gerabah, terdapat hampir di tiap kecamatan, terutama Tirtomoyo, Kismantoro, dan Batuwarno.

Batu setengah permata yang terdapat di Kabupaten Wonogiri adalah jenis kalsedon, onyx, fosil kayu, agate, jasper, dan ametis. Bahan ini digunakan sebagai bahan baku perhiasan cincin, kalung, serta aneka kerajinan. Batu setengah permata banyak terdapat di Kecamatan Giriwoyo dan Karangtengah dengan luas sebaran kurang lebih 3 ha dan memiliki sumberdaya lebih kurang 1.800 m3.

Sedangkan bahan galian logam atau golongan B yang terdapat di Kabupaten Wonogiri antara lain emas, tembaga, mangan, dan galena. Pertambangan jenis ini masih dikelola secara tradisional dan baru satu perusahaan yang mendirikan pabrik pengolahan bahan galena, yaitu di Kecamatan Tirtomoyo.

Bahan galian logam emas terdapat di Desa Jendi dan Keloran Kecamatan Selogiri dengan sebaran seluas 100 ha. Sumberdayanya diperkirakan sebesar 20 ribu ton bijih emas. Selain itu, juga terdapat di Desa Boto Kecamatan Jatiroto.

Bahan galian logam tembaga terdapat di Kecamatan Tirtomoyo dan Jatisrono. Tambang tembaga yang beroperasi sekarang pernah diusahakan pada saat pendudukan Belanda dan Jepang. Sedangkan logam mangan terdapat di Kecamatan Eromoko. Terakhir, bahan galian Galena atau timbal sulfida di Kecamatan Purwantoro.