Usman Abu Bakar: Pentingnya Islamic Core dalam Lembaga Pendidikan Islam

Gedung Rektorat IAIN Surakarta. (Foto: DPM Tarbiyah Blogspot)
Gedung Rektorat IAIN Surakarta. (Foto: DPM Tarbiyah Blogspot)

Sukoharjo, SURAKARTA DAILY ** Aspek pendidikan yang akan dikembangkan pada lembaga pendidikan Islam sepenuhnya mengacu pada tujuan pendidikan, yakni pembentukan kepribadian islami, penguasaan tsaqafah Islam, serta penguasaan sains dan teknologi.

Ketiga aspek tersebut didesain dalam standar kompetensi dan kompetensi mata pelajaran untuk menghasilkan sasaran aspek pendidikan kepribadian Islam, sasaran aspek pendidikan ilmu-ilmu keislaman (tsaqafah islamiyah), dan sasaran aspek pendidikan ilmu kehidupan.

Demikian disampaikan Prof. Usman Abu Bakar, mantan Ketua STAIN Surakarta 2006-2010, dalam Konsorsium Keilmuan Islam bertema ‘Mencari Paradigma Keilmuan IAIN Surakarta’ di Graha Institut Agama Islam Negeri Surakarta (IAIN) Surakarta, Selasa (30/9/2014).

“Tren pendidikan dengan akar keislaman dinilai memiliki eksistensi lintas waktu dan akuntabel, serta lebih accredited di tengah masyarakat. Karena mengakar kuat, pendidikan Islam mampu membangkitkan semangat kebersamaan untuk menjadikan yang ‘ter’ atau the winning education systems,” papar Usman, seperti diberitakan laman IAIN Surakarta.

Ia menambahkan, lembaga pendidikan Islam dapat menetapkan Islamic Core sebagai bagian sistem pendidikannya. Artinya, Islam akan menjadi nilai inti dari manajemen pendidikan, kurikulum, dan budaya perguruan.

Sementara itu, Mardjoko Idris , dosen bahasa Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, yang juga Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UIN Sunan Kalijaga memaparkan gambaran umum Pokok-Pokok Pikiran Paradigma Keilmuan Perguruan Tinggi Agama Islam.

“Lembaga pendidikan integratif bernuansa Islam perlu mulai menjadikan Al-Quran dan As-Sunah sebagai landasan penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh, baik pada tataran teologis, filosofis, teoretis-akademis, dan bahkan pada tataran praktisnya,” jelasnya.

Jika pemikiran tersebut ditarik ke tataran operasional, sambungnya, maka yang perlu dikembangkan menyangkut kurikulum, bahan ajar yang mengaitkan (mengintegrasikan) ajaran yang bersumber dari ayat-ayat qawliyyah (Al-Quran dan Hadis) dengan ayat-ayat kawniyyah (alam semesta) secara terpadu dan utuh.

“Pada akhirnya, usaha membumikan konsep atau paradigma integrasi-interkoneksi ilmu umum dengan ilmu agama ini, sudah semestinya tidak sebatas pada dhara pendidikan dan pembelajaran, namun juga menyentuh ke dhara penelitian dan juga pengabdian,” pungkasnya.

Mudofir, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, dalam sambutannya menuturkan, kegiatan ini mendiskusikan panduan pengembangan jejak akademik. Nantinya, setiap penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat akan berbasis pada paradigma yang dimiliki IAIN Surakarta.