November 2014, Pasar Ngebong Boyolali Diresmikan

Lomba burung di Pasar Ngebong. (Foto: Omkicau.com)
Lomba burung di Pasar Ngebong. (Foto: Omkicau.com)

Boyolali, SURAKARTA DAILY ** Awal November 2014, Pasar Ngebong Boyolali Kota akan diresmikan. Pasar yang telah selesai dibangun 19 September 2014 lalu tersebut menampung para pedagang yang sebelumnya menempati areal terminal non-bus Randuasri.

“ Ya karena telah selesai pembangunannya maka akan segera diresmikan dan ditempati para pedagang,” kata Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Boyolali, Tri Arjono, Rabu (22/10/2014), seperti dirilis Humas Pemkab Boyolali.

Pembangunan Pasar Ngebong, sambungnya, menghabiskan dana Rp2 miliar lebih, yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pusat. Pembangunan dimaksudkan untuk menampung para pedagang lama, seperti pedagang ayam (unggas), warung makan, pedagang sepeda, dan pedagang burung.

“Ya memang pembangunan Pasar Ngebong pada tahun 2014 ini diperuntukkan sebagai penampung pedagang ayam, burung, sepeda, makanan, dan minuman agar lebih tertata dan representatif,” papar Tri.

Ia menjelaskan, Pasar Ngebong yang baru dibangun ini mampu menampung 137 pedagang. Sejumlah 53 pedagang ditempatkan di kios, dan 84 pedagang ditempatkan di los. Selain kios dan los, Pasar Ngebong dilengkapi ruang pemeriksaan (unggas), MCK, serta los lomba burung yang bisa digunakan untuk ajang lomba burung kicau.

Ruang pemeriksaan hewan bisa digunakan untuk memeriksa kondisi unggas, sehingga bisa mengantisipasi penularan penyakit hewan yang berbahaya.

Sementara itu, Kasubbag Perencanaan dan Pelaporan Disperindag, Ning Handayani, menegaskan, selain membangun Pasar Ngebong, pada 2014, Disperindag juga mengucurkan dana sebesar Rp336 juta untuk merehab lima pasar tradisional di Kabupaten Boyolali.

Pasar-pasar tersebut adalah Pasar Hewan Karangjati Kecamatan Simo, Pasar Pundung Banyudono, Pasar Kebon Agung Kecamatan Ngemplak, serta pembuatan lima dokumen profil pasar berisi gambaran kondisi pasar secara singkat meliputi gambar situasi, daftar penempatan los, fasilitas pasar, serta potensi pendapatan.

“Karena keterbatasan anggaran, baru lima profil pasar. Namun, nantinya, semua Pasar di kabupaten Boyolali akan dibuatkan profil pasar secara bertahap,” pungkasnya.

Pentingnya Pasar Tradisional

Boyolali sebagai kabupaten yang kaya potensi sumberdaya alam, terutama agribisnis, memang lekat dengan pasar tradisional. Wajar bila concern pemerintah dan masyarakat tercurah pada pasar yang turun-temurun membangun transaksi saling percaya tersebut.

Ada lagi cerita menarik tentang pasar tradisional. Ternyata, Pasar Boyolali Kota pernah meraih penghargaan sebagai Pasar Tradisional Terbersih Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Penghargaan ini dinilai berdasarkan pengelolaan pasar yang baik serta lokasinya yang representatif.

Pasar Boyolali Kota terbukti mampu eksis dan laku meski berada di tengah persaingan pasar modern. Para pedagang cukup nyaman berjualan.

Kondisi pasar yang bersih membuat pedagang maupun masyarakat selaku konsumen merasa nyaman dan senang berbelanja, sehingga sampai Pasar Boyolali Kota sangat ramai sebagai pusat transaksi jual beli tadisional yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Pengelolaan pasar tradisional yang baik tentu berdampak besar pada pendapatan para pedagang. Salah satu pengelolaan yang baik adalah dengan pemberlakuan sistem zoning pedagang. Penataan ini memudahkan pelayanan kepada konsumen yang datang untuk memilih dan berbelanja barang yang dibutuhkan.

Selain penataan internal, dilakukan pula penataan pengelolaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di lingkungan pasar. Penataan PKL yang baik membuat stabilitas keamanan selalu kondusif. Tak lupa, penataan perparkiran dengan baik juga sangat penting.