Memperjuangkan Ekonomi Kreatif

Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)
Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) akhirnya mengumumkan nama-nama anggota menteri kabinet yang diberi nama ‘Kabinet Kerja’. Nama-nama menteri diumumkan oleh Presiden Jokowi di halaman belakang Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Mengamati dinamika awal penyusunan kabinet, terlintas di benak saya mempertanyakan perihal ekonomi kreatif yang tidak tercantum dalam 34 kementerian Kabinet Kerja.

Pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saya ingat betul, bagaimana pekerja kreatif, sebutan bagi pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif, dikumpulkan dan diikutsertakan untuk bersama-sama menyusun Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif hingga 2025, menjadikan ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru ekonomi.

Dalam kesempatan tersebut, hasil Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) disepakati berkomitmen pada perkembangan dan pertumbuhan ekonomi kreatif di masa depan.

Sekarang, saya mempertanyakan bagaimana nasibnya rencana-rencana strategis yang telah disusun di atas, jika tidak ada yang benar-benar fokus untuk mengurusi ekonomi kreatif?

Apabila semua konsep dan fondasi yang telah disusun dan dibangun pada pemerintahan sebelumnya tidak dilanjutkan dan diimplementasikan pada pemerintahan sekarang itu sangat disayangkan.

Lantas, sekarang saya harus bertanya kepada siapa jika ingin tahu bagaimana kabar dan nasib ekonomi kreatif pada masa Presiden Joko Widodo?

Ekonomi Kreatif

Bagi sebagian kalangan, istilah Ekonomi Kreatif memang belum familier. Namun, pembahasan tentang hal ini telah disampaikan John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. Ia pertama kali memperkenalkan istilah ekonomi kreatif tahun 1997, ketika menyadari lahirnya gelombang ekonomi baru berbasis kreativitas di Amerika Serikat yang menghasilkan produk-produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) senilai US$414 miliar. HKI lantas menjadi barang ekspor nomor satu di Amerika Serikat.

Howkins mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai the creation of value as a result of idea. Dalam sebuah wawancara bersama Donna Ghelfi dari World Intellectual Property Organization (WIPO), Howkins menjelaskan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan.

Dalam cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015, ekonomi kreatif didefinisikan sebagai era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumberdaya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Sepatutnya kita menanti bagaimana sepak terjang kabinet terbaru ini dalam mengelola berbagai peluang bagus di sektor ekonomi kreatif. Ini adalah momentum bagi semua elemen masyarakat dan juga pemerintah untuk melakukan terobosan lewat perspektif kreatif, terutama di sektor ekonomi.