Kini, Pertanian Organik Sragen Bersertifikasi Nasional

Beras Organik Padi Mulya.
Beras Organik Padi Mulya.

Sragen, SURAKARTADAILY ** Hasil pertanian padi Kabupaten Sragen mencapai surplus beras sebanyak 252.185 ton per tahunnya dari lahan panen padi 100.044 ha.

Kluster pertanian organik dapat dilihat di Desa Sukorejo dan Jetis Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen. Dirilis Pemkab Sragen, total luas lahan pertanian padi organik di Kabupaten Sragen adalah 3.256,77 ha dengan total kapasitas produksi 19.439,78 ton.

Jenis padi organik yang dikembangkan di Sragen antara lain varietas IR 64, menthik wangi, dan C64 dengan kualitas sejajar produk sejenis di luar negeri.

Sisten pertanian organik tidak terlepas dari penggunaan pupuk organik dan pestisida organik. Untuk mendukung sistem pertanian organik, Kabupaten Sragen turut memacu produktivitas pupuk dan pestisida organik. Saat ini terdapat 51 produsen pestisida organik.

Saat awal dirintis, berkat bantuan Pemkab Sragen, petani pertanian organik sudah bisa memperoleh sertifikat dari in-office, sehingga petani berhak memasang logo organik pada kemasan yang dipasarkan dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Setiap produk organik bersertifikat mencatat produk organik secara teperinci (farm record). Lokasi dan luas lahan pertanian organik yang mendapat sertifikat, yakni Desa Sukorejo Kecamatan Sambirejo seluas 134,38 ha, Desa Jetis Kecamatan Sambirejo dengan luas 53 ha, dan Desa Jambeyan Kecamatan Sambirejo seluas 42,19 ha.

Selain itu, pertanian organik di Sragen didukung oleh pengairan yang baik sepanjang tahun, karena terdapat mata air yang tetap mengalir meskipun di musim kemarau. Seperti yang ada di Desa Sukorejo Kecamatan Sambirejo. Di sana terdapat 32 mata air yang dimanfaatkan petani organik untuk mengairi sawah mereka. Jenis padi seperti Menthik Wangi, padi IR 64, menthik susu, beras merah, dan beras hitam, ditanam tiga kali setahun dengan produksi mencapai 7-8 ton per hektar sekali panen.

Di desa ini terdapat lima kelompok tani (Poktan) padi organik dengan total petani sebanyak 725 orang, yakni Poktan Sri Rejeki dengan luas lahan 29 ha, Sri Makmur dengan luas 32 ha, Gemah Ripah dengan luas lahan 28 ha, Margo Rukun I dengan luas 27 ha, dan Margo Rukun II dengan luas lahan 16 ha.

Para petani bisa memanfatkan fasilitas Rice Milling unit (RMU) untuk kegiatan pasca-panen. Gudang penggilingan padi (RMU) tersebut di bangun dari dana swadaya masyarakat, sementara tiga unit alat penggiling, pengupas kulit, dan timbangan berasal dari bantuan Dinas Pertanian Kabupaten Sragen.

Masyarakat bergotong-royong mengelola pertanian yang ada. Itu sebabnya proses penanaman hingga panen dilakukan serentak, tetapi bergilir, sehingga proses pengerjaan bisa saling membantu.

Sehat dan Berharga Tinggi

Dari sisi petani memang menguntungkan, karena harga beras organik lebih tinggi dibandingkan dengan beras anorganik. Harga beras organik bervariasi tergantung kualitas dan varietas.

Saat ini harga beras organik dari petani mencapai Rp10 ribu. Sementara harga beras organik kalau sudah sampai pedagang harga ke konsumen bisa mencapai Rp14 ribu, bahkan harga beras kepala yakni beras yang masih utuh bisa mencapai Rp18 ribu hingga Rp20 ribu.

Beras organik asal Sragen tidak hanya dikonsumsi masyarakat lokal Sragen, tapi juga dijual ke luar daerah, yakni Jakarta, Bandung, Bali, Solo, dan Jogja melalui asosiasi petani organik Sragen.

Padi organik disukai karena menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan ternak, diramu dengan tetes tebu dan dedaunan, serta pemupukan dari produk pupuk petroganik dan pupuk organik sejenis.