Desa Wisata Batik Kliwonan Masaran, Produsen Batik Khas Sragen

Pada usianya yang memasuki kepala tujuh, Wagiyah Martoprawiro tetap setia menekuni pekerjaannya membuat batik dengan motif khas dari Kliwonan. (Foto: Photobank81 Blogspot)
Pada usianya yang memasuki kepala tujuh, Wagiyah Martoprawiro tetap setia menekuni pekerjaannya membuat batik dengan motif khas dari Kliwonan. (Foto: Photobank81 Blogspot)

Sragen, SURAKARTA DAILY ** Bila Anda pencinta batik, datanglah ke kawasan Desa Wisata Batik Kliwonan Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen. Berada di pinggiran kali (sungai), industri batik di sana juga dikenal dengan sebutan Batik Girli (Pinggir Kali).

Kawasan ini terletak sekitar 12 kilometer sebelah selatan pusat kota Kabupaten Sragen, atau 15 kilometer sebelah timur laut Kota Solo. Di sepanjang jalan menuju lokasi desa wisata yang terletak 4 kilometer dari jalan besar itu, pengunjung akan disuguhi hamparan persawahan dan rumah penduduk yang tertata rapi.

Dirilis laman Pemkab Sragen, kala tiba di desa wisata batik, pelancong tidak hanya dapat berbelanja. Wisatawan dapat melihat proses pembatikan, seperti proses penjemuran, pewarnaan, pemberian motif, pelapisan dengan sejenis parafin, dan pembatikan.

Para pelancong yang berminat tinggal beberapa hari dapat menginap di rumah-rumah penduduk yang telah disulap menjadi homestay. Perjalanan wisata ini menyuguhkan pengalaman yang tak terlupakan. Sebab, wisatawan dapat memperoleh cukup waktu untuk belajar membatik, sembari menikmati kehidupan warga perdesaan khas Sragen.

Tidak cuma melihat proses pembuatan batik, turis boleh ikut menjajal menggoreskan canting, semacam pena untuk melukis batik, ke atas kain mori. Wisatawan diperkenalkan jenis-jenis kain batik dan motif yang dituangkan pada kain. Jika tak keberatan untuk berbasah dan berkotor-kotor sedikit, para penikmat perjalanan wisata bolehlah terjun ke dalam kolam pewarnaan. Bersama juru warna kain, wisatawan akan diajarkan mencelup dan mewarnai kain.

Masyarakat sentra batik Girli dikenal religius. Mereka ramah, sopan, dan terbuka terhadap tamu. Ajaran Islam, sebagai agama mayoritas penduduk, untuk memuliakan tamu yang disampaikan turun temurun oleh pendahulu mereka benar-benar dipegang teguh. Jika beruntung, wisatawan akan menjumpai sambutan unik berupa hidangan daging ayam yang digoreng utuh. Tradisi ini merupakan simbol penghormatan dan ucapan selamat datang kepada para tamu atau orang asing yang dinilai bermaksud baik.

Batik Khas Sragen

Awal mulanya, gaya batik Sragen identik dengan batik Surakarta, terutama di era 1980-an. Sebab, para pionir kerajinan batik di Sragen umumnya pernah bekerja sebagai buruh batik di perusahaan milik juragan batik Surakarta.

Namun kemudian, batik Sragen berhasil membentuk ciri khas yang berbeda dari gaya Yogyakarta dan Surakarta. Batik gaya Yogyakarta umumnya memiliki dasaran (sogan) putih dengan motif bernuansa hitam atau warna gelap. Corak Yogyakarta ini biasa disebut batik latar putih atau putihan. Sementara batik gaya Surakarta biasanya memiliki warna dasaran gelap dengan motif bernuansa putih, atau biasa disebut batik latar hitam atau ireng.

Batik Yogyakarta dan Surakarta lebih kuat mempertahankan motif gaya kraton yang telah menjadi patokan baku, misalnya parang, kawung, sidodrajat, sidoluhur, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan batik Pekalongan? Batik dari daerah pesisir utara Jawa itu biasanya berlatar warna cerah mencolok. Motif batik yang digoreskan umumnya berukuran kecil-kecil dengan jarak yang rapat.

Batik Sragen lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna. Ada kalanya dikombinasi dengan motif baku. Jadilah motif tumbuhan atau hewan yang disusupi motif baku, seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Lahirnya motif tersebut tidak lepas dari pengaruh karakter masyarakat Sragen yang pada dasarnya terbuka dan blak-blakan dalam mengekspresikan isi hati.

Belakangan ini, beberapa perajin mulai mencoba menelurkan motif baru yang isinya merekam aktivitas keseharian masyarakat. Guratan motif batik Sragen dewasa ini cenderung menyiratkan makna secara tegas. Jauh lebih lugas ketimbang corak Yogyakarta dan Surakarta.

Di Desa Wisata Batik Kliwonan, wisatawan dapat dengan mudah membedakan batik Sragen dengan motif batik dari daerah lainnya. Para perajin batik di Kliwonan biasa menuangkan karyanya ke berbagai jenis kain dengan berbagai teknik produksi.

Jenis kain yang digunakan, antara lain sutera yang ditenun dengan mesin maupun manual, katun, dan primisma. Perajin di Sragen umumnya memproduksi batik dengan teknik tulis, cap, printing, dan kombinasinya. Namun, sebagian besar perajin masih mempertahankan teknik tulis di atas kain primisma. Teknik tradisional ini menunjukkan kemampuan luar biasa batik tulis Sragen dalam bertahan di era modern. Masih dipegangnya cara tradisional para pembatik di kawasan Kliwonan merupakan eksotisme yang langka dijumpai. Inilah daya tarik desa wisata batik Kliwonan.

Soal daya saing batik Sragen memang bukan isapan jempol semata. Walaupun berupa industri rumahan dan berlokasi di perdesaan, kapasitas produksi batik yang dihasilkan tidak bisa dianggap enteng.

Produksi batik jenis katun yang dihasilkan pada 2005 mampu menembus angka 50 ribu potong, sementara batik jenis sutera dari alat tenun bukan mesin mencapai 365 ribu potong. Tak mengherankan apabila Sragen mampu membayang-bayangi Pekalongan dan Surakarta sebagai daerah produsen batik.

Buah Tangan Khas Desa Wisata Batik Kliwonan

Desa Wisata Batik Kliwonan menjajakan cinderamata yang dapat dibeli oleh para wisatawan seperti kerajinan kain perca batik, berupa tas, dompet cantik, bantal hias, dan selimut.

Ada pula kerajinan grabah ndeso terbuat dari tanah liat hitam yang menciptakan tekstur kasar, namun antik dan eksotis. Grabah ndeso dapat berbentuk tempayan air, pot bunga, dan kuali.

Anda dapat membeli kerajinan sangkar burung . Desa wisata ini memiliki kekayaan alam berupa bambu yang melimpah, terutama di daerah tepian Sungai Bengawan Solo. Bambu-bambu tersebut oleh penduduk setempat diolah menjadi berbagai barang kerajinan yang cantik, antara lain sangkar burung.

Anda dapat pula mengunjungi Galleri Batik Sukowati dan Sentra Bisnis Batik Sragen (SBBS) di jantung Kota Sragen, hanya beberapa puluh langkah kaki dari kantor Pemerintahan Kabupaten. SBBS dan Galeri Batik Sukowati merupakan pusat perbelanjaan dan sirkulasi kerajinan batik Sragen.